Kita tidak suka terkurung di satu tempat. Kita ingin keluar dari lift secepat mungkin...."
Berita Terkait
Jakarta (ANTARA News) - Interaksi manusia di lift menyimpan kecemasan tersembunyi, seperti dikutip dari laman BBC yang ditulis William Kremer.
"Kebanyakan dari kita jadi diam di lift. "Kita masuk, tekan tombol, dan berdiri seperti patung."
Menaiki lift bisa jadi hal yang sepele sebagai bagian dari perjalanan ke kantor, namun Dr Lee Gray dari Universitas North Caroline di Charlotte telah mengamati bentuk transportasi umum yang kadang terabaikan itu. Orang-orang memanggilnya sebagai "manusia lift".
"Lift menjadi ruang sosial yang menarik dengan etika yang agak unik," jelas dia.
"Secara sosial sangat menarik tapi juga kadang menjadi tempat yang canggung."
Percakapan yang terjadi di lobi cenderung hening mendadak dalam lift gedung perkantoran. Saat orang-orang masuk ke lift, mereka biasanya membalikkan diri dan menghadap ke pintu.
Bila orang lain masuk, kita mungkin harus bergeser.. Para penumpang lift secara otomatis bergerak dalam pola tertentu.
Jika sedang sendirian, Anda bisa melakukan apapun, itu adalah ruang kecil milik Anda.
Bila ada dua orang, masing-masing mengambil tempat di pojok yang berbeda. Berdiri berseberangan secara diagonal menciptakan jarak terjauh.
Saat orang ketiga masuk, Anda secara tidak sadar akan membentuk segitiga. Dan saat ada orang keempat, maka posisi akan membentuk persegi di mana setiap orang menempati tiap pojok.
Orang kelima mungkin harus berdiri di tengah.
Saat masuk lift, orang biasanya segera melakukan hal spontan, seperti menunduk atau melihat-lihat ponselnya.
Mengapa kita bersikap canggung dalam lift?
"Soalnya tidak punya cukup ruang," kata Profesor Babette Renneberg, psikolog klinis di Free University of Berlin.
"Biasanya saat bertemu orang lain kita terpisah jarak sepanjang lengan. Dan itu tidak mungkin terjadi di dalam lift. Jadi, itu adalah kondisi yang tidak biasa. Itu tidak alami."
Dalam ruang sempit dan tertutup, kata dia, sangat penting untuk bertindak dalam cara yang tidak akan disalahartikan sebagai ancaman, aneh, atau ambigu. Cara termudah adalah dengan menghindari kontak mata.
Namun mungkin saja bahwa itu lebih dari sekedar kecangguangan sosial.
"Alam bawah sadar kita merasa sedikit cemas," kata Nick White seorang pekerja di New York yang pernah sial terjebak dalam lift selama 41 jam.
"Kita tidak suka terkurung di satu tempat. Kita ingin keluar dari lift secepat mungkin, karena kita tahu, itu adalah tempat yang menyeramkan."
Saat dia tersiksa terkurung dalam lift, dia mulai memikirkan tempat tertutup lain- kuburan.
Tentu bisa dimengerti bila White kapok naik lift. Namun, bila Anda bekerja di kota yang penuh gedung bertingkat dan Anda ingin jadi resepsionis di lantai atas, maka itu bukanlah pilihan.
Lee Gray si Pria Elevator setuju bahwa rasa ketidakberdayaan adalah penyebab rasa cemas dalam lift.
"Anda berada dalam mesin yang bergerak, di sana Anda tidak berdaya. Anda tidak bisa melihat mesin elevator, Anda tidak tahu bagaimana cara kerjanya," kata dia.
Rasa pasif saat bergantung di tangan mesin semakin jelas dengan teknologi elevator tanpa tombol.
Setelah masuk ke dalam gedung dengan menggesek atau menyentuh panel kontrol pusat sekuriti, lift yang sudah diprogram itu berhenti otomatis di lantai tertentu sehingga tidak perlu ada tombol-tombol yang ditekan.
Sistem itu didesain agar lift tidak berhenti di tempat yang tidak diperlukan, namun walaupun lebih efisien, sebagian orang menganggap pengalaman itu mengerikan.
Meskipun lift diasosiasikan dengan kecemasan, Gray bersikeras bahwa itu lebih aman daripada mobil dan eskalator.
"Faktanya, lift adalah bentuk transportasi yang paling aman, jika Anda melihat data berapa miliar mil telah dilalui lift, hanya terjadi sedikit kecelakaan."
Itulah mengapa kita terus menggunakan lift setiap hari walaupun rasa cemas masih melanda.
"Kita harus tahu bahwa kita bisa naik elevator dan itu aman," kata Renneberg. "Jadi, rasio menang di atas naluri kita."
(nan)
Editor: Aditia Maruli
COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com
Komentar Pembaca
Kirim Komentar
0 komentar:
Posting Komentar