Jakarta (ANTARA News) - Hasil riset Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) berupa iradiasi jaringan tulang sapi untuk
xenograft--pencangkokan jaringan dari satu spesies ke spesies lain-- akan diproduksi secara massal untuk keperluan pengobatan kerusakan tulang, gigi dan mata.
"Kami baru saja menandatangani MoU bersama mitra kami untuk membuat hasil riset Batan menjadi tidak sekedar hasil riset, tapi dimanfaatkan secara massal untuk kebutuhan medis," kata Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto di sela Seminar dan Pameran Teknologi Isotop dan Radiasi di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, kebutuhan akan xenograft bagi keperluan pengobatan kerusakan tulang dan gigi sangat besar, namun selama ini masih dipenuhi dengan cara mengimpornya dari luar negeri berupa bahan sintetik xenograft yang harganya sangat mahal.
Direktur Pharma Medika Sejahtera Martahan S mengatakan, setelah proses registrasi ke Kementerian Kesehatan selesai, pihaknya segera memproduksi massal xenograft dan memasarkannya ke berbagai rumah sakit dan klinik di Indonesia.
"Sampai 70 persen rakyat Indonesia memiliki kerusakan gigi, 50 persen wanita Indonesia menderita osteoporosis dan ada 24 juta kasus kecelakaan dengan patah tulang per tahun. Mereka ini membutuhkan bonegraft," katanya.
Bonegraft, lanjut dia, bisa diambil dari bonggol tulang sapi yang dapat ditemukan di berbagai Rumah Potong Hewan bersertifikasi dan memprosesnya menjadi berbagai potongan sesuai kebutuhan sebelum akhirnya diiradiasi di Batan untuk sterilisasi dan siap dimanfaatkan.
"Jika dengan bahan yang diimpor itu masyarakat harus membayar sekitar Rp5,5 juta per 5 cc xenograft sintetis, nanti kami akan menjualnya dengan harga yang jauh lebih murah sekitar Rp100 ribu - Rp200 ribu per cc," katanya.
Sementara Kepala Bank Jaringan Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi Batan Basril Abbas mengatakan, potongan-potongan xenograft bisa dibentuk membran, granule (bubuk), chips (irisan), bosir (bulat), hingga kubus sesuai kebutuhan.
"Potongan ini dicuci dengan bahan kimia tertentu untuk menghilangkan reaksi pada tubuh manusia, kemudian dikeringkan (liofilisasi), dikemas dan kemudian diiradiasi dengan dosis sinar gamma 25 kgy," kata Basril.
Selain tulang sapi, lanjut dia, pihaknya juga mengembangkan riset jaringan untuk memperbaiki luka yang berasal dari amnion (kantung pelindung embrio) yang selain dibutuhkan untuk menutup luka terbuka, juga untuk merangsang pertumbuhan kulit.
Ia menambahkan pihaknya mendorong rumah-rumah sakit bersalin untuk membangun bank jaringan dan mensosialisasikan kepada pasiennya untuk bersedia menyerahkan selaput ketuban bayinya, sedangkan plasentanya dikembalikan.
"Gagasan ini mencontoh bank darah dengan donor bersifat sukarela dan bertujuan menolong orang lain yang mengalami kecelakaan. Kami sudah mencobanya di RS Siti Fatimah di Makassar," katanya.
(D009)
0 komentar:
Posting Komentar