Home » » Pengawasan BOS Kurang Libatkan Masyarakat

Pengawasan BOS Kurang Libatkan Masyarakat

Written By Dino Cerata on Selasa, 09 Oktober 2012 | 23.12

KOMPAS.com - Edukasi
News and Service // via fulltextrssfeed.com
Pengawasan BOS Kurang Libatkan Masyarakat
Oct 10th 2012, 06:12

SOLO, KOMPAS.com - Masyarakat kurang dilibatkan dalam pengawasan penggunaan biaya operasional sekolah.

Untuk mencegah terjadinya penyimpangan, diperlukan mekanisme pengawasan penggunaan dana BOS dengan melibatkan masyarakat secara aktif.

Persoalan ini mengemuka dalam Semiloka Pengembangan Modal Pengawasan Dana BOS yang Berbasis Masyarakat yang digelar Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) di Solo, Jawa Tengah, Selasa (9/10).

Direktur YSKK Suroto mengatakan, dana bantuan operasional sekolah (BOS) sebelumnya disalurkan lewat pemerintah daerah. Sejak 2012, dana ditransfer langsung ke sekolah dan sekolah juga diberi keleluasaan, mulai dari perencanaan, penggunaan, hingga pertanggungjawaban penggunaan dana.

Di sekolah-sekolah tertentu, di mana komite sekolah juga terdiri atas orangtua siswa, pengawasan penggunaan dana bisa efektif. Namun, di banyak sekolah justru terjadi penyimpangan.

Hasil penelitian YSKK di Gunung Kidul (DI Yogyakarta) dan Solo (Jawa Tengah), bentuk penyimpangan penggunaan BOS antara lain sekolah belum menyusun dan mengesahkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (APBS) saat BOS cair. Sekolah juga tidak mencantumkan seluruh penerimaan BOS dalam Rancangan APBS, kepala sekolah tidak transparan dalam mengelola dana sekolah, dan terjadi manipulasi surat pertanggungjawaban BOS.

Contoh lain diungkapkan Manajer Tim Manajemen BOS Gunung Kidul Dwi Agus Muhdiharto. Pihaknya menemukan banyak sekolah salah menempatkan prioritas penggunaan dana BOS. Sekolah, misalnya, mendahulukan membeli perlengkapan meja-kursi atau membangun gapura daripada menggunakan dana BOS untuk siswa.

Dwi Agus yang juga Kepala Seksi Data dan Perencanaan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Gunung Kidul menyambut baik wacana pengawasan berbasis masyarakat terhadap BOS. Ia mengakui, amat sulit mengawasi penggunaan BOS di sekolah yang jumlahnya amat banyak. Di Gunung Kidul terdapat 607 SD dan SMP yang menerima BOS, sedangkan tim pengawas hanya terdiri atas lima orang.

Suroto menambahkan, pihaknya berharap dapat segera tersusun model pengawasan berbasis masyarakat terhadap BOS.

Untuk penelitian siswa

Di Jakarta, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan, untuk menumbuhkan budaya meneliti siswa di SMA/SMK, sekolah dapat memanfaatkan dana BOS untuk kegiatan penelitian siswa serta kegiatan seni dan budaya.

"Nanti akan ada satu item di komponen BOS yang bisa dipakai untuk membiayai penelitian serta kegiatan seni dan budaya," kata Nuh seusai membuka Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia 2012.

Dana BOS untuk siswa SMA/ SMK mulai dikucurkan Juli 2013. Besarnya Rp 1 juta per siswa setiap tahun. (EKI/LUK)

Editor :

Caroline Damanik

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Artikel pendidikan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger