Home » » Faktor Kendala Kesuksesan Wajar 9 Tahun

Faktor Kendala Kesuksesan Wajar 9 Tahun

Written By Dino Cerata on Senin, 27 Agustus 2012 | 01.38

KOMPAS.com - Edukasi
News and Service // via fulltextrssfeed.com
Faktor Kendala Kesuksesan Wajar 9 Tahun
Aug 27th 2012, 08:38

Faktor Kendala Kesuksesan Wajar 9 Tahun

Penulis : Ali Sobri | Senin, 27 Agustus 2012 | 14:49 WIB

Dibaca:

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA Lelah Menunggu Angkutan Rexy, siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Keerom, di Distrik Waris, Kabupaten Keerom, Papua, lelah menunggu tumpangan pulang di sebuah warung, Senn (18/4/2011). Tidak sedikit siswa yang harus berjalan kaki puluhan kilometer untuk menuju sekolah mereka karena tidak adanya transportasi.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengaku program wajib belajar 9 tahun masih menyisakan kendala, terutama dalam hal pencapaian peningkatan kualitas pendidikan dasar. Dirjen Pendidikan Dasar Kemendikbud Suyanto mengatakan, memang penuntasan wajar 9 tahun secara kuantitas tinggal tersisa 2 persen lagi, namun pencapaiannya secara kualitas masih dihadang sejumlah kendala.

"Penyebab terkendalanya wajar 9 Tahun ini, faktor paling banyak yang terjadi adalah akibat kendala ekonomis. Pendapatan rendah di dalam keluarga di pedalaman juga membentuk budaya yang tidak baik, sehingga sebagian mereka masih menganggap sekolah itu nggak penting," terangnya di gedung Kemendikbud, Senin (27/8/2012) siang.

Selain itu, Suyanto menyebutkan faktor geografis, dan infrastruktur sekolah juga menentukan sulitnya menyelesaikan program sekolah lanjutan. Di daerah pedalaman, masih banyak orangtua yang berpikir untuk menjadikan anak sebagai sumber ekonomi keluarga.

"Jadi komitmen belajar di daerah itu kurang," katanya.

Pemerintah, lanjutnya, akan berusaha lebih keras menjalankan program tersebut agar keberlanjutan pendidikan di tengah masyarakat terus meningkat, termasuk menggalakkan upaya ini di daerah pedalaman. Misalnya, dengan mendirikan sarana dan prasarana seperti sekolah berasrama dan pembangunan SD/SMP Satu Atap di sejumlah daerah, seperti Papua, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Timur.

"Sesuai rencana, kita tetap akan berusaha mengajak masyarakat untuk mau bekerjasama. Karena yang tersisa ini tinggal yang hard rock-nya. Paling sulit untuk diajak pergi ke sekolah," tuturnya.

"Kita menjalankan ada semacam penjelasan dan gerakan sosial melalui PKK, Organisasi Wanita, Mualimat dan Assyiyah, dan Sarjana masuk desa juga ada, serta di pedalaman, asrama-asrama pendidikan tetap didirikan. Kita juga memberikan bantuan subsidi terhadap siswa, diluar dana BOS yang ada, pokoknya gimana caranya mereka tetap bisa pergi ke sekolah," tambahnya lagi.

Editor :

Caroline Damanik

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Artikel pendidikan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger