REPUBLIKA.CO.ID,PURWAKARTA -- Selama setahun puluhan siswa SDN II Jatimekar, yang berlokasi di Kampung Karang Anyar Servis, Desa Jatimekar, Kecamatan Jatiluhur, belajar di teras sekolah.
Pasalnya, ruang kelas mereka roboh akibat tertimpa longsor. Dari enam kelas yang ada, tiga di antaranya roboh. Para siswa ini, terpaksa belajar di teras kelas yang selamat dari longsor.
Deni Obet (35 tahun), salah seorang wali murid, mengatakan, yang belajar di teras kelas itu, terdiri dari siswa kelas 3,4 dan 5. Mereka belajar tanpa meja dan kursi. Hanya beralaskan lantai. Sedangkan siswa kelas 1,2 dan 6 belajar di ruang kelas yang selamat dari timbunan longsor. "Anak-anak itu tetap belajar, meskipun tidak punya kelas," ujar Obet, Rabu (12/9).
Diakui dia, SDN II Jatimekar ini merupakan satu-satunya sekolah yang berada di perkampungan ini. Tak ada lembaga pendidikan lainnya. Karena satu-satunya, maka seluruh anak kampung bersekolah di SD tersebut.
Dengan harapan, mereka bisa menimba ilmu dengan baik. Salah satu pendukungnya, tentu saja ruang kelas yang bagus. Akan tetapi, harapan ini seakan sirna. Apalagi, ketika tiga lokal kelas roboh tertimpa material longsor.
Awal kejadian, banyak siswa yang meliburkan diri. Sebab, kelas mereka rusak parah. Supaya anak-anak ini tetap sekolah, akhirnya para guru berinisiatif menggunakan teras sekolah untuk kegiatan belajar. "Mereka belajar dengan kondisi yang pas-pasan,"cetusnya.
Para orang tua kemudian mendesak sekolah, untuk mengusulkan bantuan rehab ke dinas terkait. Tak lama, sekolah mengusulkannya. Namun, ditunggu sampai setahun, bantuan itu tak kunjung datang.
Kondisi ini, kemudian tercium sejumlah media massa. Mendadak, SDN II Jatimekar mendapat perhatian serius. Karena pemberitaan ini, akhirnya SD tersebut mendapat perbaikan. Sekitar 1,5 bulan yang lalu ada rehabilitasi ruang kelas yang rusak itu. "Namun, sampai saat ini akan-anak tetap masih belajar di teras sekolah," tegasnya.
Endah S (49 tahun), salah satu guru di SDN II Jatimekar, membenarkan dengan kondisi tersebut. Saat ini, kegiatan belajar masih tetap berjalan. Meskipun, tiga kelas tidak memiliki ruangan yang layak untuk belajar. Namun, semangat anak-anak untuk menimba ilmu sangat tinggi. "Meskipun belajar di teras, mereka tetap berangkat ke sekolah," ujar Endah.
0 komentar:
Posting Komentar