DEPOK, KOMPAS.com - Sebanyak 5,3 juta mahasiswa di semua perguruan tinggi merupakan potensi atau aset untuk menunjang kegiatan riset dan pengabdian masyarakat di universitas. Namun, potensi ini kurang dimanfaatkan sehingga kegiatan riset dan pengabdian masyarakat tidak optimal.
Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Djoko Santoso, Rabu (12/9), dalam kegiatan Gelar Ilmu Universitas Indonesia (UI) 2012 di Depok.
"Saya masih menjumpai mahasiswa magister yang belum pernah membaca hasil riset di jurnal ilmiah," kata Djoko.
Ia mengatakan, setiap universitas memiliki kewajiban menjalankan tridarma perguruan tinggi. Hal itu meliputi penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran, riset dan pengembangan, serta pengabdian kepada masyarakat.
"Universitas yang hanya menjalankan pendidikan bukan sebuah universitas, melainkan hanya sebuah sekolah," ujar Djoko, yang juga menjadi Pejabat Sementara Rektor UI sejak Agustus 2012.
Djoko mengemukakan, sejumlah universitas terkemuka di dunia melibatkan mahasiswa untuk kegiatan riset para dosen. Dari kegiatan riset dihasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
"Publikasi riset ke jurnal ilmiah internasional dari periset di universitas kita baru mencapai 1,2 persen," tuturnya.
Namun, kelayakan masuk jurnal internasional tidak terlepas dari fasilitas riset yang berstandar internasional. Hal ini yang perlu ditingkatkan di Indonesia.
Riset hidrogen
Gelar Ilmu UI merupakan agenda lima tahunan pada masa kepemimpinan rektor terpilih. Pada kegiatan itu, antara lain, ditetapkan penghargaan untuk kegiatan riset terbaik.
Riset sumber energi terbarukan dengan hidrogen meraih penghargaan sebagai riset terbaik pada Gelar Ilmu UI 2012. Perisetnya adalah Nasruddin dari Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, UI.
"Kami melakukan kerja sama riset dengan Universitas Auckland, Selandia Baru, dan Universitas Nasional Singapura," kata Nasruddin.
Pendanaan adalah salah satu kendala untuk menunjang kegiatan riset yang tergolong mutakhir dan berbiaya tinggi di perguruan tinggi. Menurut Nasruddin, riset sumber energi terbarukan hidrogen tergolong mahal. "Riset ini juga masih berlangsung di sejumlah universitas di dunia," lanjutnya.
Hidrogen dimanfaatkan untuk sistem bahan bakar sel (fuel cell). Penggunaannya tidak menghasilkan gas buang atau emisi yang mencemari lingkungan.
Limbah dari penggunaan hidrogen sebagai bahan bakar berupa air murni. Hidrogen untuk bahan bakar transportasi diperkirakan akan banyak dimanfaatkan jika era mobil listrik tiba. (NAW)
Editor :
Caroline Damanik
0 komentar:
Posting Komentar