JAKARTA, KOMPAS,com - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) kembali memberikan penghargaan Perekayasa Utama. Penghargaan tahun ini diraih oleh Martha Tilaar, pengusaha yang menekuni bisnis kecantikan dan jamu dengan brand andalan Sariayu Martha Tilaar.
Penghargaan Perekayasan Utama telah diberikan sejak tahun 2007. Beberapa perekayasa yang pernah menerimanya antara lain Emil Salim dalam bidang Teknologi Lingkungan dan Kebumian serta Ciputra dalam bidang Teknologi Manufaktur dan Arsitektur.
Kepala BPPT, Marzan Aziz Iskandar, mengatakan, penghargaan kepada Martha Tilaar istimewa. "Ibu Martha Tilaar adalah perempuan pertama yang meraihnya," katanya dalam konferensi pers, Kamis (13/9/2012).
Menurut Marzan, penghargaan kepada Martha Tilaar dinilai tepat sebab aktifitas bisnisnya menunjukkan adanya kegiatan rekayasa. Bisnis ditopang oleh kegiatan eksplorasi, riset dan rekayasa.
"Beliau (Martha Tilaar) menyadari betul bahwa jantung industri kosmetik adalah riset dan pengembangan. Tanpa itu, produk kosmetik yang dihasilkan akan sulit untuk bersaing," papar Marzan.
Dalam sidang terbuka pemberian penghargaan, Martha Tilaar menyampaikan orasi berjudul "Kearifan Lokal yang Mendunia dalam Bidang Kesehatan dan Kosmetika Alami". Orasi panjang menceritakan pengalaman Martha Tilaar mengelola bisnisnya.
Puluhan tahun menekuni dunia kosmetik berawal dari bisnis salon, Martha Tilaar telah mendapatkan pencapaian berharga. Ia menjadi participary founder dari The Global Impact dan meraoh penghargaan Doktor Honoris Causa dari World University of Tucson di Arizona, Amerika Serikat pada tahun 1984..
Nama Martha juga diabadikan menjadi nama salah satu spesies anggrek yang ditemukan di Kalimantan, Coelogyne marthae. Aroma bunga anggrek pun menarik Martha hingga kemudian mengolahnya menjadi aroma sabun.
Dalam konferensi pers, Martha pun menyinggung beberapa hal soal pengembangan riset, kekayaan budaya Indonesia dan pelestarian serta pengembangannya. Martha bercerita perlunya melestarikan tradisi kecantikan di Indonesia seperti spa Bali agar tak diklaim negara lain.
Martha juga mendorong percepatan proses paten produk sehingga menunjang kegiatan bisnis.
"Saya tahun 2002 berusaha mematenkan 34 produk tanaman OKA (obat dan kosmetika), setelah 1o tahun baru 5 yang keluar," ungkapnya.
Berkomentar tentang penghargaan Perekayasa Utama Kehormatan yang diterimanya, Martha mengaku terkejut. "Saya hanya seorang praktisi saja, bakul jamu," ungkapnya.
Martha berpesan pada semua kalangan untuk terlibat dalam pembangunan Indonesia sesuai bidangnya. "Mari kita persembahkan sekuntum melati dalam rangkaian bunga untuk bangsa Indonesia," katanya.
0 komentar:
Posting Komentar