"Yeeee...!!"
Sorak-sorai meledak saat penutupan Asia Pacific Conference of Young Scientists. Para peserta bersalaman, berangkulan, sampai bercipika-cipiki (cium pipi kanan-kiri). Sesudah tujuh hari, perkawanan tumbuh menjadi karib. Mereka menambah ilmu dan sahabat dalam suasana menyenangkan.
Demikianlah, 71 pelajar remaja dari 12 negara mengikuti Asia Pacific Conference of Young Scientists (APCYS) di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 2-7 September lalu. Konferensi penelitian ilmiah untuk para pelajar remaja se-Asia Pasifik itu tak melulu diisi dengan penelitian ilmiah yang membosankan. Selain melakukan presentasi siswa, pameran poster penelitian, dan kuis, peserta juga berwisata keliling kota, menikmati pertunjukan musik dan tarian khas Dayak, serta berkunjung ke tempat rehabilitasi orangutan.
Di Taman Wisata Bukit Batu (TWBB), Kabupaten Katingan, Kalteng, misalnya, mereka melakukan permainan ilmiah. Telur dibungkus kertas dan dijatuhkan dari atas batu besar yang cukup tinggi. Peserta harus menjaga agar telur tidak pecah dengan menggunakan parasut.
Permainan itu menerapkan ilmu matematika dan fisika. Mereka juga mempelajari kebudayaan Kalteng dengan berkunjung ke Museum Balanga. Di sana, mereka mencoba membuat model Jembatan Kahayan yang berada di Palangkaraya. Matematika dan fisika tidak terasa membosankan, bahkan menyenangkan.
Tujuan APCYS memang memberikan kesempatan kepada para peserta agar saling berbagi ilmu dengan rekan-rekannya dari sejumlah negara di Asia Pasifik. Aktivitas itu dilakukan dalam suasana yang kompetitif yang bersahabat. Penelitian dikategorikan dalam lima kelompok, yakni fisika, matematika, ilmu komputer, lingkungan, dan ilmu hayat. Semua presentasi ilmiah dan pameran diperiksa panel anggota juri internasional.
Negara-negara para peserta meliputi Indonesia, Thailand, Singapura, Malaysia, Brunei, Nepal, Korea Selatan, Jepang, Guam, China, Taiwan, dan Australia. Penyelenggara APCYS berharap, mereka mampu membuat penelitian ilmiah lebih populer di kalangan pelajar sehingga mendorong minat mereka menjadi ilmuwan.
Menurut President APYCS Monika Raharti, Palangkaraya dipilih menjadi tempat dilaksanakannya APCYS karena selama ini semua kegiatan terpusat di Jawa, terutama Jakarta. Para peserta APCYS didorong menggunakan kearifan lokal untuk memecahkan masalah di lingkungannya.
"Mereka merasa sangat senang bisa berwisata, mempelajari kebudayaan lokal, bahkan antusias saat singgah di kawasan gambut," ujar Monika. (Dwi Bayu Radius)
Editor :
Caroline Damanik
0 komentar:
Posting Komentar