JAKARTA, KOMPAS.com - Pengakuan UNESCO terhadap keberhasilan penuntasan buta aksara di Indonesia terkait peringatan Hari Aksara Internasional 2012 diminta tidak membuat komitmen pemerintah mengatasi masalah tersebut mengendur. Sebab, ancaman buta aksara kini justru dialami 59.000 anak-anak tenaga kerja indonesia (TKI) di Malaysia.

Penuntasan buta aksara bagi warga negara Indonesia masih menghadapi tantangan, khususnya untuk anak-anak TKI usia sekolah yang belum terlayani pendidikan. Mereka tersebar di berbagai perkebunan di Malaysia.
-- Ahmad Rizali

"Penuntasan buta aksara bagi warga negara Indonesia masih menghadapi tantangan, khususnya untuk anak-anak TKI usia sekolah yang belum terlayani pendidikan. Mereka tersebar di berbagai perkebunan di Malaysia," kata Ahmad Rizali, Direktur Program Pendidikan Pertamina Foundation, Kamis (13/9/2012).
Pada Juli lalu Pertamina Foundation bersama Ikatan Guru Indonesia (IGI) memantau kondisi pendidikan anak-anak TKI di Sabah. Dari data yang dihimpun, baru sekitar 14.000 anak-anak TKI di tingkat SD dan SMP yang bisa dilayani pemerintah Anak-anak TKI yang terancam buta huruf ini berusia 4-16 tahun. "Di tingkat SMP, layanan pendidikan lumayan bagus. Tetapi yang jenjang SD belum ada terobosan," kata Ahmad.
Ahmad mendesak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) membentuk satuan tugas (satgas). "Jika Kemendikbud merasa tidak mampu membentuk satgas pemberantasan buta aksara, penanganan di Malaysia jangan dengan prosedur formal Kementerian," kata Ahmad.
Berdasarkan data Konsulat Jenderal Kota Kinabalu, kata Ahmad, ada sekitar 400 perusahaan sawit yang mempekerjakan 500.000 TKI. "Pemerintah Indonesia mestinya bisa mengupayakan supaya di perusahaan sawit ini membuka layanan pendidikan bagi anak-anak TKI lewat community learning center," ujar Ahmad.
Pertamina Foundation menggandeng IGI untuk membantu pemberantasan buta aksara di kalangan anak-anak TKI. Pada Oktober nanti direncanakan pengiriman buku-buku bacaan bagi siswa SD dan pengiriman guru untuk membantu layanan pendidikan.
Ketua Umum IGI Satria Darma mengatakan IGI mendukung upaya untuk membantu anak-anak TKI di Malaysia yang belum mendapat layanan pendidikan.
"Kami bekerjasama dengan Sampoerna Foundation akan mengirim buku ke Malaysia dalam waktu dekat ini. Kami juga mau merekrut guru untuk di kirim ke sana," kata Satria.
Masih ada sekitar 40.000 anak yang belum terurus dan buta huruf di Sabah. Belum ditambah yang di Sarawak dan Semenanjung, jumlahnya diperkirakan 59.000 anak.
0 komentar:
Posting Komentar