Home » » SPP Tertunggak, Jangan Anak yang Dikorbankan...

SPP Tertunggak, Jangan Anak yang Dikorbankan...

Written By Dino Cerata on Kamis, 15 November 2012 | 22.02

KOMPAS.com - Edukasi
News and Service // via fulltextrssfeed.com
SPP Tertunggak, Jangan Anak yang Dikorbankan...
Nov 16th 2012, 06:01

SPP Tertunggak, Jangan Anak yang Dikorbankan...

Shutterstock Ilustrasi.

JAKARTA, KOMPAS.com - Elchera Caesar (11) disebutkan sempat dilarang masuk sekolahnya selama hampir dua pekan. Menurut pengakuan Yuniati Saniah, anaknya tidak diperkenankan ikut dalam kegiatan belajar mengajar di sekolahnya di SD Madina Islamic School Jakarta terhitung sejak 24 Oktober hingga 5 November lalu.

Kepada Kompas.com, Selasa (13/11/2012), Saniah mengutarakan, pihak sekolah sudah tiga kali melarang anaknya untuk masuk ke gerbang sekolah swasta di jalan Tebet Dalem IV No.1 Tebet, Jakarta Selatan itu. Bahkan, menurut ibu lima orang anak ini, anak pertamanya itu sempat mengalami perlakukan kasar oleh satpam penjaga gerbang sekolah.

Caesar dirumahkan pihak sekolah karena orangtua tidak dapat melunasi sejumlah biaya sekolah selama empat bulan. Sekolah merumahkan siswa kelas 4 ini sampai biaya sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) dibayar lunas.

"Sebenarnya lebih dari tiga kali tapi yang saya ingat ya sekitar itu, waktu itu saya pernah sudah transfer sebagiannya waktu bulan Agustus pas puasa, tapi tetap anak saya tidak boleh masuk karena belom lunas," akunya.

Waktu itu, Saniah tidak tahu sampai kapan anaknya harus belajar sendiri di rumah. Meski telah menyicil tunggakan, dia berharap sekolah tidak melarang seorang siswa untuk belajar di kelas. Maklumlah, mereka harus menyicil utang lain.

"Mau saya, karena ini urusan keuangan adalah urusan orang tuanya, maka anak tidak usah dikorbankan," katanya.

"Kami belum bisa secepatnya melunasi SPP, hanya minta waktu beberapa minggu untuk melunasinya, tapi pihak sekolah menanggapi dengan kasar terhadap anak kami," katanya lagi.

Ayah Caesar, Cipto Yulianto (35), seoerang wiraswasta bidang jasa, pada hari yang sama, sedang meminta solusi kepada komite sekolah dan mengurus masalah tersebut ke hadapan pihak sekolah. Namun sampai saat ini, sekolah belum memutuskan apa-apa kecuali, Caesar diperbolehkan masuk sementara.

Perjanjian dengan sekolah

Meski sudah diperbolehkan masuk sementara, orangtua Caesar diminta untuk menandatangani perjanjian tertulis yang bunyinya tetap mengancam siswa untuk dirumahkan kembali apabila dalam satu bulan ini tidak berhasil melunasinya juga.

"Saya juga kaget, ada perjanjian seperti itu. Saya belum sadar detil perjanjian waktu itu. Jadi saat keuangan keluarga sedang tersendat seperti ini, anak saya jadi korbannya," kata Saniah.

"Harusnya biar orangtua saja yang mengurus, anak tidak usah jadi korban. Kasihan psikologinya," tambahnya.

Sementara itu, pihak sekolah belum mau memberi keterangan. Kepala Sekolah Sari Suwarni masih enggan ditemui. Hanya Kepala Bagian Keamanan SD Madina School, Ruben, yang memberikan keterangan kepada Kompas.com. Menurutnya, sekolah hanya melarang masuk siswa yang belum dapat melunasi pembayaran uang sekolah selama satu hari.

"Kami hanya menjalankan tugas dari kebijakan sekolah. Kami tidak berlaku kasar, dan bicara baik-baik," katanya di sekolah.

"Jadi kalau ada pemberitaan buruk, kami mohon maaf. Waktu itu kami tidak melakukannya. Dan dalam masalah ini, pihak sekolah sedang mengurus dengan yayasan," tambahnya kemudian.

Editor :

Caroline Damanik

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Artikel pendidikan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger