BOGOR, KOMPAS.com - Taman Safari Indonesia (TSI) mengembangkan kertas daur ulang unik. Kertas tersebut terbuat dari kotoran gajah.
Kepala divisi bidang pertamanan kompos dan kertas TSI, Mukdor Khasani, menjelaskan proses pembuatan kertas dari kotor gajah tersebut melalui beberapa tahapan diawali dengan mencuci kotoran gajah dengan air.
Kotoran gajah yang telah dicuci, berupa serat sisa makanan yang masih basah, lalu dijemur di sinar matahari hingga kering dan berubah warna seperti warna coklat susu. Serat kering kotoran gajah itu dicampur dengan kertas bekas.
"Perbandingan pencampuran ini 3 kilo kotoran gajah dan 1 kg kertas bekas," kata Mukdor dalam cara perayaan peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional di Taman Safari Indonesia, Cisarua, Bogor, Jumat (9/11/2012) yang dihadiri Menteri Lingkungan Hidup, Balthasar Kambuaya.
Selanjutnya, kata Mukdor, kotoran gajah dan kertas diblender dalam alat khusus. Tahap selanjutnya, perebusan yang berlangsung selama 15 menit. Setelah direbus dan berubah menjadi bubur kertas, campuran dicetak dengan screen ukuran 40 x 50 cm untuk menjadi kertas kering.
Pembuatan kertas dari kotoran gajah ini dimulai sejak enam bulan lalu. Berawal dari eksperimen dua pegawai TSI. Ia mengatakan, proses pembuatan kertas dari kotoran gajah dapat berlangsung selama satu hari.
Dalam satu hari TSI menghasil 2 ton kotoran gajah dari 40 ekor yang ada. "Dari 2 ton kotoran diolah setiap harinya. Dari 100 kg serat kotoran dikeringkan menghasilkan 4 kg kotoran kering. Dari 4 kg serat kering menghasilkan 210 lembar kertas ukuran 40x50 cm," jelas Mukdor.
Mukdor menambahkan, kertas dari kotoran gajah ini sudah dibuat menjadi buku, amplop, kertas cetak foto, undangan dan frame foto.
Menteri Lingkungan Hidup, Baltasar Kambuaya, mengapresiasi pengelolaan kotoran gajah untuk pembuatan kertas yang dikembangkan oleh Taman Safari Indonesia.
"Selama ini kertas diproduksi dari pohon atau hutan kita. Jika kotoran gajah bisa dimanfaatkan untuk pembuatan kertas tentu ini dapat mengurangi penggunaan kertas dari pohon," katanya.
"Kita berharap ini bisa dikembangkan menjadi industri," tambahnya.
0 komentar:
Posting Komentar