Jakarta (ANTARA News) - Arkeolog menemukan sebuah kuil yang diperkirakan berasal dari abad 11 sebelum masehi di dekat perbatasan kota Yerusalem.
Di atas tempat yang dulunya berdiri kompleks Tel Beth-Shemesh, desa kuno sekitar 20 kilometer dari Yerusalem, para penggali menemukan pecahan cangkir dan piala, bukan tipe cangkir dan piala yang digunakan sehari-hari.
Mereka juga menemukan tulang-belulang binatang di batu pipih di dalam bangunan itu dan dua batu pipih lainnya yang diperkirakan digunakan untuk menuang cairan.
Karena artefak-artefak itu tidak memiliki bentuk yang umumnya digunakan dalam kegiatan rumah tangga, para penggali berpendapat bangunan itu dulu digunakan sebagai tempat pemujaan yang mungkin berkaitan dengan kultus Israel.
Tempat itu tidak digunakan sebagai tempat ibadah dalam waktu yang lama.
Arkeolog menemukan bukti bahwa kuil itu dihancurkan. Berdasarkan analisis debu yang ditemukan di tempat itu, terdapat sisa-sisa mikroskopik tumbuhan yang biasa menjadi makanan hewan ternak, juga kotoran dari binantang pemakan rumput. Temuan itu menunjukkan tempat itu pernah menjadi kandang ternak.
Para arkeolog juga menduga bangunan itu merupakan bukti dari konflik antara bangsa Israel, Kanaan, dan Filistin.
Mereka yakin pengambilalihan kuil menjadi kandang ternak mungkin mewakili penodaan yang disengaja oleh bangsa Filistin, yang hidup berdampingan meski tidak berdamai dengan bangsa Israel dan Kanaan.
Desa kuno Beth-Shemesh, yang terletak di persimpangan ketiga bangsa itu, sering berpindah tangan diantara mereka.
Para peneliti mengatakan bangsa Filistin mungkin sementara memimpin Beth-Shemesh dan mengurung ternak mereka di bangunan yang mereka tahu tadinya merupakan tempat sakral bagi musuh mereka.
Bukti lainnya juga menunjukkan kemungkinan para pemuja itu pada akhirnya kembali lagi.
Arkeolog menemukan beberapa oven tanah liat berbentuk bundar yang disebut "tabuns" di lapisan tanah di atas reruntuhan kuil.
Benda berbentuk seperti itu umumnya ditemukan di dekat tempat tinggal kuno, bukan tempat suci, namun para arkeolog memiliki penjelasan akan hal tersebut.
"Kami yakin nenek moyang orang-orang yang membuat kompleks itu telah membangunnya kembali," kata arkeolog Zvi Lederman dari Tel Aviv University dalam sebuah pernyataan, seperti yang dikutip dari Live Science.
Ia menambahkan oven biasanya digunakan untuk menyiapkan jamuan makanan untuk menghormati kuil tersebut setelah bangsa Filistin keluar dari area tersebut.
(nta)
0 komentar:
Posting Komentar