JAKARTA, KOMPAS.com - Simulasi konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk para siswa sekolah menengah atas (SMA) yang keempat digelar. Ajang pembelajaran diplomasi bertajuk 'HighScope Model United Nation (HSMUN) 2012' ini digelar di Kampus Highscope TB Simatupang, Cilandak Barat, Jakarta Selatan, 21-22 November 2012.
Para siswa dari 11 sekolah di kawasan Jabodetabek membentuk kelompok seolah-olah sebagai 18 delegasi negara anggota PBB. Pantauan Kompas.com, Rabu siang, para peserta tampak serius membahas isu-isu dunia terhangat yang dekat dengan kehidupan generasi muda.
Sekretaris Jenderal HSMUN Selena Imania yang merupakan siswi kelas XII IPS HighScope Jakarta mengatakan, pada sesi pertama yang dinamakan Committe Session, setiap delegasi diminta berargumentasi di hadapan peserta lainnya untuk mempertahankan hak-hak dari negara yang diwakili.
"Kalau Anda lihat, pada sesi pertama ini masing-masing mereka setidaknya memaparkan posisi negara masing-masing untuk kemudian mencari dukungan dari negara-negara lain dan membuatkan resolusinya," tutur Selena saat meninjau pelaksanaan simulasi di masing-masing komite.
Dari 18 delegasi perwakilan sekolah yang seolah-olah mewakili negara anggota PBB tersebut, ada 5 komite PBB yang membahas masing-masing isu. Isu 'Freedom of Expression and Access to Media' dibahas oleh Social, Humanitarian and Cultural Committee (SOCHUM), sedangkan isu obat-obatan terlarang dalam diskusi bertajuk 'Illicit Drug Abuse in the Developing World' dibahas di United Nation Office of Drugs and Crime (UNODC).
Adapun isu 'Refugees Fleeing Lord's Resistance Army Attacks' dibahas oleh United Nation High Commissioner for Refugees (UNHRC), sedangkan tema hak reproduksi kewanitaan masuk ke dalam isu 'Women's Reproductive Rights' yang dibahas oleh United Nation Enttity for Gender Equality and the Empowerment of Women (UNWOMEN). Selain itu, isu perdebatan pulau sengketa masuk ke dalam diskusi 'Post Colonial Territorial Sovereignty' di Komite Special Political and Decolonization Committee (SPECPOL).
"Kelima perdebatan ini kurang lebih membahas akses ke media, penyalahgunaan narkoba, pulau sengketa, hak reproduksi, dan kasus Josef Koni Uganda. Isu-isu international ini secara serius dibahas 18 negara oleh 18 pembicara dengan fokus, terstruktur dan juga didukung data statistik saat pembekalan beberapa waktu lalu itu," ucapnya lagi.
Dalam simulasi ini, Selena juga menyebutkan ada banyak aturan yang harus diikuti oleh para peserta simulasi baik antar komite maupun saat konferensi besar hari ini, Rabu (22/11/2012).
"Layaknya sidang konferensi PBB sungguhan, mereka pun berbicara sesuai aturan organisasi yang ada," tambahnya.
Sesi rapat komite HSMUN dilaksanakan dengan metode moderator focus. Para delegasi menyampaikan permasalahan dalam kurun waktu 1 menit, kemudian bernegosisasi dengan negara lain agar hak-hak yang diperjuangkan bisa benar-benar berdiri untuk kemudian menjadi draf solusi dan bahkan menyelaraskan persepsi dengan negara lain yang masih bertentangan.
"Sebenarnya tema yang dibahas akan sangat kontroversial. Jadi selalu ada dua pandangan berbeda. Di sinilah mereka berusaha mengasah keterampilan berdiplomasi," ucap Selena lagi.
Editor :
Caroline Damanik
0 komentar:
Posting Komentar