Sayang Saja, Ada Jawaban Soal yang Kurang Akurat...
JAKARTA, KOMPAS.com - Ruangan Uji Kompetensi Guru (UKG) gelombang kedua yang berada di lantai dua SMA Negeri 70 Jakarta, Selasa (9/10/2012), berangsur sepi. Akhirnya, hanya tersisa seorang guru yang masih sibuk mengerjakan soal fisika yang diujikan.
Achmad Safari, nama guru itu, sesekali menggunakan lembaran kertas kosong untuk menghitung jawaban dari soal yang dikerjakannya. Dia tampak tenang meski beberapa kali mengerutkan kening dan tidak kunjung memilih jawaban pada soal pilihan ganda.
Waktu di layar monitor komputernya masih tersisa 30 menit untuk menuntaskan soal di hadapannya. Sesekali ia bergumam sendiri dan kembali mencoret lembaran kertas putih untuk memastikan jawabannya.
"Disayangkan saja. Tadi ada soal-soal yang jawabannya tidak sesuai. Akurasi jawaban perlu diperbaiki," kata Safari, usai merampungkan soal UKG gelombang kedua, di SMA Negeri 70, Jakarta, Selasa (9/10/2012).
Guru Fisika yang juga menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum di SMA Negeri 70 ini menjelaskan bahwa dirinya telah mengikuti UKG dan mendapat nilai di atas batas minimum tetapi pada pelaksanaan UKG gelombang kedua dirinya kembali mendapat undangan. Hal ini juga terjadi pada semua guru yang mengajar di sekolah menengah yang berada di kawasan Bulungan.
"Kami juga tidak tahu kenapa kami diundang lagi. Tidak masalah jika diuji lagi dengan tujuan mengukur kemampuan. Namun variasi soal harus setara dan akurasi jawaban juga harus baik," ujar Safari.
Mengenai sosialisasi dan distribusi yang mendadak, dia tidak mau mempermasalahkannya. Menurutnya, hal tersebut hanya berpengaruh kecil pada pelaksanaan UKG gelombang kedua ini. Kendati demikian, Safari berharap UKG benar-benar untuk mengukur kualitas guru.
"Tujuannya baik. Semoga tidak disalahgunakan. Jika memang untuk mengukur kualitas, sebaiknya memang dilakukan berkala dengan jangka waktu yang pasti," tandasnya.
Editor :
Caroline Damanik
0 komentar:
Posting Komentar