JAKARTA, KOMPAS.com - Penggunaan biofosfonat untuk terapi osteoporosis harus hati-hati, apalagi diberikan dalam dosis besar. Bila pasien indikasi pencabutan gigi, pemasangan implan gigi ataupun tindakan bedah minor lainnya dapat menyebabkan tulang menjadi nekrosis yang sulit sekali disembuhkan.
Demikian kesimpulan disertasi Marzella Mega lestari, drg, MDS, SpBM yang berjudul "Pengaruh Alendronat pada Tulang Osteoporotik, Osteointegrasi Implan Gigi dan Penyembuhan pasca Pencabutan" (Studi Eksperimental pada Tikus Sprague Dawley) dalam sidang di Universitas Indonesia, Kamis (27/9/2012).
Promotor Marzella adalah drg Dewi Fatima Suniarti MS PhD (Universitas Indonesia), sedangkan ko-promotornya adalah Prof Dondin Sajuthi, drh, PHD (Institut Pertanian Bogor).
Marzella Mega Lestari menyelesaikan pendidikan S1 Kedokteran Gigi di Universitas Padjadjaran Bandung, kemudian melanjutkan pendidikan spesialis (S2) di National University of Singapore, dan menyelesaikan pendidikan S3 Kedokteran Gigi di Universitas Indonesia.
Dalam disertasinya, Marzella menjelaskan, implan gigi merupakan salah satu alternatif dalam menggantikan gigi yang hilang. Keberhasilan implan dilihat dari osteointegrasi implan dengan tulang yang ditentukan oleh bentuk, permukaan implan, teknik operasi, kualitas dan kuantitas tulang.
Kualitas merupakan determinan utama suksesnya osteointegrasi tulang dengan implan. Kualitas tulang dipengaruhi oleh faktor sistemik salah satunya adalah osteoporosis.
Osteoporosis merupakan penyakit tulang yang berhubungan dengan defisiensi estrogen yang biasanya mengenai wanita pasca ovariektomi atau menopause. Keadaan ini ditandai dengan menurunnya massa dan perubahan mikroarkitektur tulang. Terdapat respons terhadap sitokin inflamasi, memperpanjang masa hidup osteoklas sehingga kavitas resorbsi melebihi formasi. Remodeling tulang dipengaruhi sistem RANKL/OPG/RANK .
RANKL suatu mediator penting bagi formasi, fungsi dan kelangsungan osteoklas. OPG adalah receptor yang mencegah RANKL berikatan dengan RANK dan mencegah osteoklas meresorpsi tulang. Bila RANKL mengalahkan OPG, terjadi resorpsi berlebihan dan terjadilah osteoporosis.
Terapi osteoporosis salah satunya adalah dengan menggunakan bisfosfonat. Bisfosfonat adalah analog pirofosfat yang menghambat resorpsi tulang. Bisfosfonat dibagi atas bisfosfonat yang mengandung nitrogen dan yang tidak mengandung nitrogen; di antaranya alendronat yang merupakan obat populer dalam terapi osteoporosis.
Bisfosfonat ini menghambat pembentukan osteoklas melalui jalur tertentu sehingga terjadi apoptosis osteoklas (kematian sel penghancur tulang), pembentukan dan fungsi osteoklas yang terhambat. Dengan demikian tulang hidup lebih lama dari remodeling tulang normal, mineral matriks tulang bertambah sehingga terjadi hipermineralisasi. Tanpa resorbsi tulang, tanpa hormone pertumbuhan seperti bone morphogenic protein dan insulin like growth factor tulang menjadi tua akan mati.
Bisfosfonat osteonekrosis (BON) didefinisikan oleh American Society for Bone and Mineral Research sebagai osteonekrosis yang terjadi pada pengguna bisfosfonat, lebih dari 8 minggu, tidak ada riwayat radiasi sebelumnya. Gejala ini dapat disertai dapat disertai pembengkakan, pembentukan pus, fistula ekstra oral (pembentukan jalur sampai diluar rongga mulut), fraktur rahang patologis, serta ketidaknormalan saraf alveolaris inferior (rasa baal pada bibir dan dagu).
Bisfosfonat oral memiliki potensi 100x lebih rendah dari bisfosfonat intravena, tapi bisfosfonat oral digunakan dalam jangka panjang. Sejak akhir tahun 2003, mulai banyak kasus bermunculan tentang tulang nekrotik pada rahang karena pemakaian bisfosfonat .
Pencetus osteonekrosis dapat berupa spontan (25,2%), pencabutan gigi (37,8%), bedah periodontal (11,2%)pemasangan implan gigi (3,4 %), bedah saluran akar (0,8%). Insidensi osteonekrosis oleh bisfosfonat oral mulai dari 0,007%, menjadi 0,01%-0,04% dan 4%, terjadi peningkatan.
Bila sudah terjadi osteonekrosis sangat sulit sembuh, tidak ada respon terhadap perawatan konvensional seperti pemberishan luka secara bedah, terapi antibiotik ataupun terapi oksigen hiperbarik.
Berdasarkan latar belakang seperti ini maka perlu diteliti tentang pengaruh alendronat yang digunakan pada tulang osteoporotik terhadap
osteointegrasi implan gigi dan penyembuhan luka Penelitian dilakukan pada tikus Sprague Dawley yang diovariektomi dan dilakukan pemasangan implan dan pencabutan gigi.
Pada penelitian ini didapatkan bahwa penggunaan alendronat dosis kecil (10mg) 4x per minggu tidak mempengaruhi proses penyembuhanm luka pasca pencabutan dan osteointegrasi implan gigi. Sedangkan pada alendronat dosis besar (70mg 1x perminggu) akan menyebabkan tulang mudah mengalami osteonekrosis yang sangat sulit disembuhkan dan osteointegrasi implan tidak baik sehingga implan mudah lepas.
Pada pemakaian 35 mg 1x per minggu diperoleh osteointegtrasi implan yang terbaik. Penelitian ini masih dilakukan pada hewan coba; dan dengan makin meningkatnya insidensi osteonekrosis pada pengguna bisfosfonat nitrogen perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang farmakokinetiknya dalam tubuh hewan yang lebih tinggi tingkat species dan hewan yang memiliki umur lebih panjang seperti Macaca sp sehingga dapat diamati secara jangka panjang tentang pemakaian dan efek samping obat ini.
"Sangat dianjurkan kepada para klinisi untuk menanyakan pada setiap pasien terutama wanita apakah menggunakan bisfosfonat terutama untuk pasien indikasi pencabutan gigi dan pemasangan implan. Tolok ukur ini harus dijadikan acuan pada setiap pasien pencabutan ataupun tindakan bedah minor lainnya. Sebaiknya bila sudah terjadi osteoknekrosis karena bisfosfonat jangan dilakukan tidakan invasif apapun karena akan memperparah keadaan," demikian Marzella.
0 komentar:
Posting Komentar