BANDUNG, KOMPAS.com - Seorang guru sains harus bisa memosisikan diri sebagai pendamping siswa yang melibatkan mereka secara aktif dalam memahami fenomena alam. Metode tersebut bisa mengikis stigma bahwa sains menjemukan, bahkan menakutkan.
Demikian inti lokakarya guru sains di Pusat Sains Antariksa, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, Bandung, Senin (24/9). Materi dibawakan Deborah Scherrer dari Pusat Penelitian Matahari, Universitas Stanford, serta David Rodrigues, pengajar astronomi di California Academy of Sciences, San Francisco. Lokakarya diikuti 40 guru dari sejumlah daerah di Indonesia, seperti Tomohon, Sulawesi Utara; Banyuasin, Sumatera Selatan; Bondowoso, Jawa Timur; dan Kota Bandung, Jawa Barat.
"Pengajar harus mampu melibatkan siswanya secara aktif. Yang ingin dipelajari adalah bagaimana sebuah fenomena bisa terjadi, bukannya mencatat rumus di papan tulis atau membacakan buku sehingga murid menjadi pasif," ujar Scherrer.
Dalam lokakarya tersebut, Scherrer menggunakan alat peraga untuk mengajak para guru mempelajari magnet berikut dua kutub yang dimiliki. Dengan pengetahuan itu, dia menjelaskan tentang kutub magnet Bumi dan bagaimana medan magnetnya mampu melindunginya dari plasma yang dipancarkan Matahari.
Melalui percobaan, murid lebih mudah mempelajari sebuah topik pelajaran. Hafalan tidak efektif karena 80 persen di antaranya akan segera dilupakan.
Seorang pengajar harus memiliki antusiasme di depan murid, ujar Rodrigues. Guru harus bisa menyajikan materi pendidikan dengan cara yang membuat anak didiknya tetap fokus.
"Jika murid mencintai sains, bukan tidak mungkin dia akan tumbuh sebagai ilmuwan di masa mendatang," kata Rodrigues.
Kepala Pusat Sains Antariksa Clara Yono Yanti menuturkan, lokakarya ini adalah rangkaian pelatihan 68 ilmuwan muda yang digagas International Space Weather Initiative dan Magnetic Data Acquisition System yang digelar di Ciloto, Cianjur, 17-26 September. Pelatihan ditujukan bagi 28 ilmuwan luar negeri dan 40 ilmuwan dari Indonesia. (ELD)
Editor :
Caroline Damanik
0 komentar:
Posting Komentar