Home » » Satelit pengamat sabuk radiasi diluncurkan ke orbit

Satelit pengamat sabuk radiasi diluncurkan ke orbit

Written By Dino Cerata on Kamis, 30 Agustus 2012 | 05.04

ANTARA News - Teknologi - Sains
News And Service // via fulltextrssfeed.com
Satelit pengamat sabuk radiasi diluncurkan ke orbit
Aug 30th 2012, 11:29

Jakarta (ANTARA News) - Roket tak berawak Atlas 5 pada Kamis diluncurkan dari Cape Canaveral Air Force Station di Florida untuk meletakkan sepasang satelit Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) yang akan mempelajari radiasi penyelubung Bumi ke orbit.

Roket setinggi 58 meter itu meluncur melintasi Samudera Atlantik menuju orbit sejauh 19.042 mil atau sekitar 30.645 kilometer dari permukaan Bumi.

Dua satelit kembar identik Radiation Belt Storm Probes (RBSP) yang menumpangi roket itu akan menghabiskan waktu dua tahun untuk menyelidiki sabuk Van Allen, kawasan di sekitar Bumi yang selama ini berusaha dihindari pesawat antariksa.

Kawasan yang dinamai seperti nama fisikawan Universitas Iowa, James Van Allen, tersebut berbentuk seperti dua donat raksasa yang mengelilingi Bumi.

Sabuk Van Allen yang ditemukan tahun 1958 oleh satelit Explorer 1, tertahan di tempatnya oleh medan magnet Bumi, yang menjebak partikel bermuatan listrik dari Matahari dan bagian antariksa yang jauh.

Bagaimana sabuk itu terbentuk dan mengapa kadang mereka membalon sampai sekarang masih jadi misteri.

"Penemuan sabuk yang berisi partikel berbahaya ini dulu merupakan kesuksesan besar, tapi observasi itu membawa banyak pertanyaan. Ini adalah pertanyaan ilmiah yang menarik, tapi juga praktis, karena kita perlu melindungi satelit dari radiasi dalam sabuk itu," kata David Sibeck, ilmuwan di Goddard Space Flight Center NASA dan misi RBSP.

Saat satelit RBSP berada di orbit, mereka akan terbang selama dua tahun melintasi sabuk radiasi.

Bagian dalam sabuk itu bermula sekitar 650 mil atau sekitar 1.046 kilimeter di atas Bumi dan memanjang sampai sekitar 8.000 mil atau sekitar 12.874 kilometer.

Bagian luarnya bermula pada ketinggian sekitar 8.000 mil dan memanjang sampai sekitar 26.000 mil atau sekitar 41.842 kilometer.

Kedua satelit yang dibangun dan dioperasikan Laboratorium Fisika Terapan Johns Hopkins University itu akan terbang dengan jarak 100 mil (160 kilometer) satu sama lain sampai 24.000 mil (38.624 kilometer).

RBSP akan mengukur berbagai partikel termasuk hidrogen, helium dan oksigen, juga medan magnet dan medan listrik sepanjang sabuk radiasi yang memandu gerakan partikel-partikel tersebut.

Selain itu RBSP akan mengukur energi dengan spektrum luas dari partikel yang paling dingin di ionosfer sampai yang paling aktif dan berbahaya.

"Partikel dalam sabuk radiasi itu bisa menembus pesawat ruang angkasa dan mengganggu elektronik, sirkuit pendek atau memori komputer," kata Sibeck di laman resmi NASA.

Informasi tentang bagaimana sabuk itu menggembung dan mengempis serta responnya terhadap aktivitas Matahari akan membantu para ilmuwan memperbaiki model magnetosfer Bumi secara keseluruhan untuk memperkirakan kemungkinan bahaya pada sabuk radiasi.

Penempatan dua satelit pengamat tersebut ke orbit akan membantu para ilmuwan melihat dinamika global dalam sabuk radiasi, kata peneliti dalam proyek tersebut, Nicola Fox, seperti dikutip Reuters.

(*)

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Artikel pendidikan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger