Paris (ANTARA News) - Polonium, racun yang diduga digunakan untuk membunuh pemimpin Palestina Yasser Arafat pada 2004, adalah bahan yang sangat radioaktif serta jarang ditemukan kecuali di komplek militer serta lingkungan ilmiah.
Bahan yang juga dikenal dengan Radium F itu alami mengandung metaloid seperti yang terkandung di biji uranium yang memaparkan alpha yang berbahaya.
Sebelum dihubungkan dengan kematian Arafat, bahan ini dikenal lewat kasus Alexander Litvinenko, mantan mata-mata dan pembangkang dari Rusia yang tewas di London pada 2006 dengan menujukkan ciri-ciri keracunan Polonium.
Dosis kecil dari Polonium 210 ada di tanah serta atmosfir, bahkan dalam tubuh manusia, namun dalam dosis tinggi bahan ini menjadi racun dan jika tertelan atau terhirup bisa merusak jaringan serta organ tubuh.
Bahan ini merupakan bahan natural paling langka, dalam 10 gram uranium, terdapat sepermiliar gram Polonium.
Bahan ini sudah digunakan dalam industri untuk radiasi alpa dalam penelitian ilmiah dan pengobatan, serta sebagai sumber panas untuk komponen luar angkasa, namun dengan bentuk seperti ini tidak memungkinkan untuk dijadikan racun.
Dosis kecil juga ditemukan di tembakau, berasal dari tanah dan penyubur phospate untuk tanaman tembakau.
Polonium ditemukan oleh Marie dan Pierre Curie pada 1898 ketika mereka sedang melakukan penelitian di Prancis tentang radiaktif yang ada di mineral bijih-bijih uranium, sumber utama uranium.
Marie Curie menamai bahan tersebut dengan nama tanah kelahirannya Polandia, yang pada waktu itu berada di bawah kontrol Rusia, Prussian dan Austria dan tidak dianggap sebagai negara merdeka.
Untuk penemuan mereka atas polonium, radium, serta radioaktif, kedua Curie tersebut memenangi Nobel Fisika tahun 1903, mereka juga membaginya dengan Antoine Becquerel dari Prancis.
Seperti perintis yang lain dalam hal radioaktif, Marie Curie tewas di usia 67 pada tahun 1934 karena leukimia yang diakibatkan bahan radioakif.
(dny)
0 komentar:
Posting Komentar