Kemacetan Jakarta seperti Karnaval...
KOMPAS.com - Lima hari di Jakarta, Jonathan Kalikit (32) heran campur gembira melihat banyaknya mobil di Ibu Kota, apalagi disertai kemacetan luar biasa.
"Kalau di kampung saya, mobil hanya banyak saat karnaval. Itu pun tidak sebanyak di sini," kata Jonathan, guru SD Masehi Mau Ramba, di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ia bersama 20 guru lainnya dari daerah terpencil dan terluar di Aceh serta Papua berkunjung ke Jakarta. Mereka melihat-lihat Monumen Nasional, Taman Mini Indonesia Indah, stasiun televisi, percetakan surat kabar, dan tentu saja gedung-gedung pencakar langit yang menyesaki Jakarta.
Di sinilah rasa heran, penasaran, dan kagum bermunculan. "Tadinya heran, bagaimana caranya naik ke atas gedung yang menjulang tinggi? Pasti capek. Ternyata naik lift," kata Agnes Ika Anarambu, guru di SD Inpres Halawuku, Kabupaten Sumba Timur, yang baru pertama kali naik lift.
Lain lagi dengan Isak Korwa, guru SD YPK Urfuk di Kabupaten Biak Numfor Papua. "Saya ke Jakarta naik pesawat. Sampai sekarang masih heran, bagaimana mungkin besi bisa terbang?" ujarnya.
Rasa penasaran itu menyatu dengan rasa kagum, heran saat menikmati pengalaman baru. Saris Banani, guru SMP Negeri 2 Fatuleu Tengah, Kabupaten Kupang, NTT, misalnya, baru pertama kali ini ke Jakarta. Jangankan ke Jakarta, ke ibu kota provinsi Kupang pun baru pertama kali.
"Meski sama-sama di Kupang, lokasi mengajar sangat jauh," kata Banani. Untuk menuju Bandara El Tari Kupang, misalnya, ia harus naik ojek selama 12 jam sejak pukul 07.00 hingga 19.00 dengan ongkos Rp 200.000.
"Harus naik ojek karena mobil angkutan umum hanya ada setiap Selasa, hari pasaran," kata Banani. Mobil angkutan umum yang dibayangkan pun tidak seperti di Jakarta berupa bus dengan penyejuk udara, tetapi truk yang bak bagian belakangnya dipasang kursi kayu.
Begitu pun Jonathan Kalikit. Meski berada di NTT, ia juga baru pertama kalinya ke Kupang. Dari sekolah tempatnya mengajar di SD Masehi Mau Ramba, Kecamatan Kahaungu Eti Sumtim, Kabupaten Sumba Timur, dia harus naik kapal dua hari dua malam menuju Kupang. Dari Kupang, barulah dia naik pesawat ke Jakarta.
"Kondisi Jakarta tak pernah terbayangkan sebelumnya," kata Jonathan dengan suara gemetar.
Honor minim
Jonathan dan guru-guru lainnya tak pernah menyangka bisa ke Ibu Kota. Jangankan bisa pergi ke Jakarta, untuk hidup sehari-hari saja sangat sulit. Honor yang diterima Jonathan sebagai guru honorer hanya Rp 350.000 per bulan yang diambil dari dana bantuan operasional sekolah (BOS).
Slamet Hariyadi (51) asal Jawa Timur, yang sudah 17 tahun menjadi guru honorer di SMK Yapis Biak, juga tidak menyangka bisa ke Jakarta. Honornya yang hanya sekitar Rp 850.000 per bulan habis untuk kebutuhan hidup sehari-hari di Papua.
Karena itu, melihat berbagai tempat di Jakarta sungguh merupakan pengalaman sangat berharga bagi mereka. "Di depan kelas, saya bisa cerita kepada anak-anak kalau naik pesawat harus pakai sabuk pengaman. Sebelumnya, tak pernah mimpi bisa naik pesawat," kata Susana Mofu, guru SD Inpres Sumberker, Kabupaten Biak.
Amirudin, guru SD Negeri Lambeuot Aceh, justru terkesan saat melihat kereta api yang melintas cepat di Palmerah. "Ternyata sangat panjang dan lajunya sangat cepat," kata Amirudin yang masih penasaran karena tak sempat naik kereta api.
Menjual mimpi
Mengundang guru-guru dari daerah terpencil ke Jakarta merupakan salah satu program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) bekerja sama dengan Garuda Indonesia. Awalnya, Kemdikbud mengirimkan para sarjana pendidikan untuk menjadi guru ke daerah-daerah terisolasi melalui program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T).
Sekitar 6.000 guru dari 12 perguruan tinggi negeri ditugaskan mengajar di sejumlah daerah terpencil dan perbatasan negara, seperti di Provinsi Aceh, Sulawesi Utara, Papua, dan NTT.
Kehadiran guru-guru dari Jawa ternyata membawa suasana berbeda dalam penyelenggaraan pendidikan di daerah terpencil. Selain metode pengajarannya baru, cara pendekatan guru kepada murid juga lebih familiar.
"Dan yang terpenting, guru-guru dari Jawa bisa menjadi motivator bagi murid-murid untuk maju," kata Sukemi, Staf Khusus Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang menyelenggarakan kegiatan ini.
Sebagai tindak lanjut SM3T, kemudian guru-guru dari daerah terpencil, terluar, dan tertinggal diajak untuk melihat Jakarta.
"Diharapkan setelah guru-guru tersebut melihat Jakarta bisa menularkan mimpi dan menjadi motivator buat murid-muridnya," kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh.
Kepala Humas PT Garuda Indonesia Pudjobroto juga menilai positif pengiriman guru-guru daerah terpencil ke Jakarta. Mereka memiliki wawasan dan pengalaman baru yang bisa ditularkan kepada murid-murid. Karena itu, kegiatan ini sedang dijajaki agar bisa berlanjut setiap tahun....
Editor :
Caroline Damanik
0 komentar:
Posting Komentar