Home » » "Bullying", Bisa karena Terbiasa

"Bullying", Bisa karena Terbiasa

Written By Dino Cerata on Sabtu, 28 Juli 2012 | 23.11

KOMPAS.com - Edukasi
News and Service // via fulltextrssfeed.com
"Bullying", Bisa karena Terbiasa
Jul 29th 2012, 06:11

JAKARTA, KOMPAS.com - Aksi kekerasan siswa senior kepada yuniornya atau bullying kerap kali mewarnai nuansa tahun ajaran baru sekolah. Terakhir, delapan orang siswa kelas I SMA Don Bosco Pondok Indah menjadi korban kekerasan oleh seniornya. Mereka ditampar, ditendang, hingga disundut rokok. Kasus ini pun diproses oleh Polres Jakarta Selatan. Di manakah letak celahnya hingga kekerasan seakan "membudaya" di institusi pendidikan?

Pengamat pendidikan Lody Paat mengungkapkan, bullying  terjadi karena seakan sudah menjadi aksi yang biasa dan dibiasakan.

"Kekerasan seperti ini terjadi dari tingkat SMP sampai perguruan tinggi. Hal tersebut menjadi sah buat mereka karena selalu dibiasakan," kata Lody, kepada Kompas.com, Jumat (27/7/2012).

"Kekerasan seperti ini terjadi dari tingkat SMP sampai perguruan tinggi. Hal tersebut menjadi sah buat mereka karena selalu dibiasakan"

-- Pengamat pendidikan Lody Paat

Lody mengatakan, jika kekerasan seperti ini disebabkan pada saat Masa Orientasi Sekolah (MOS), maka kegiatan tersebut bisa saja dihilangkan atau diberikan peraturan. Siswa harus diajarkan pendidikan karakter agar anti-kekerasan.

Kekerasan di sekolah, menurutnya, tidak hanya sebatas fisik, tetapi juga psikis dan simbolik. Cara untuk mengatasi bullying di sekolah, menurut Lody, adalah mengubah sistem yang dibangun di sekolah. Kata kunci dari perubahan ini adalah relasi yang harus dibangun di sekolah melalui program-programnya.

Relasi yang dimaksud adalah antara guru dengan murid, murid dengan murid, guru dengan pengetahuan, dan murid dengan pengetahuan. Dari relasi ini, menurutnya, akan terbangun dan dapat menciptakan lingkungan sekolah yang efektif.

Lody menambahkan, sekolah juga harus memberikan pendidikan karakter kepada siswa secara menyeluruh. Pendidikan tersebut tidak hanya dari satu mata pelajaran, tetapi harus disisipkan di seluruh pelajaran dan kegiatan siswa. Dari pendidikan karakter itulah siswa belajar untuk bertanggung jawab.

"Harus ada budaya demokrasi di kelas. Pendidikan karakter dibangun agar budaya tenggungjawab sebnernya harus dimulai melalui semua mata pelajaran. Melalui itulah tindakan bully dan kekerasan bisa dihilangkan," kata Lody.

Editor :

Inggried Dwi Wedhaswary

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Artikel pendidikan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger