Home » » Soal Kelapa Sawit, Indonesia adalah \"Timur Tengah\" Dunia

Soal Kelapa Sawit, Indonesia adalah \"Timur Tengah\" Dunia

Written By Dino Cerata on Senin, 16 September 2013 | 05.22

KOMPAS.com - Sains
News and Service // via fulltextrssfeed.com 
Save on Car Insurance

We're here to make buying car insurance awesome and easy. We're here to guide you towards a better policy that keeps those Benjamins in your pocket.
From our sponsors
Soal Kelapa Sawit, Indonesia adalah \"Timur Tengah\" Dunia
Sep 16th 2013, 10:06


JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam soal kelapa sawit, Indonesia adalah "Timur Tengah" dunia. Kalau negara-negara Timur Tengah bisa berjaya lewat cadangan minyak untuk energi, Indonesia dapat juga berjaya lewat optimalisasi kelapa sawit sebagai produsen bahan bakar nabati.

"Kelapa sawit hanya bisa tumbuh di negara tropis yang banyak hujan, seperti Indonesia dan Malaysia. Jadi, Indonesia seperti Timur Tengah kalau dalam kelapa sawit," ungkap Unggul Priyanto, Deputi Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bidang teknologi informas, energi, dan material.

Unggul mengatakan, Indonesia saat ini sudah merupakan produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Produktivitas kelapa sawit Indonesia saat ini sudah 23 juta ton per tahun dan masih bisa meningkat hingga 27 juta ton pada akhir tahun 2013.

Dengan produktivitas tinggi tersebut, Indonesia sebenarnya bisa memanfaatkan kelapa sawit sebagai sumber bahan bakar nabati seperti halnya negara-negara Timur Tengah menggali terus cadangan minyak untuk mencukupi kebutuhan energi. Minyak kelapa sawit bisa menggantikan solar dan premium.

"Saat ini, belum ada solusi untuk menjawab masalah bahan bakar untuk transportasi. Panas bumi berpotensi tapi itu untuk listrik. Dalam transportasi, listrik baru proven untuk kereta. Mobil listrik masih taraf riset," papar Unggul.

Unggul menjelaskan bahwa penggunaan minyak kelapa sawit untuk bahan bakar nabati bisa menghemat pengeluaran negara untuk energi, menekan impor bahan bakar, sekaligus menjadi kesempatan memulai mengembangkan energi terbarukan secara serius.

Pada Juni 2013, Indonesia mengimpor bahan bakar sebesar 4,4 juta ton dengan harga 95,8 dollar AS per barrel. Sementara, pada Juli 2013, Indonesia mengimpor 4,67 juta ton dengan harga 104,7 dollar AS per barrel. Impor diprediksi terus meningkat seiring pertambahan penduduk dan menurunnya cadangan minyak.

Menurut perhitungan Unggul, dengan harga solar non subsidi sebesar Rp 10.300 saat ini, penggunaan bahan bakar nabati bisa menghemat Rp 1.360 per liter. Harga olein yang telah disesuaikan dengan nilai kalor solar sebesar Rp 8.940.

Menurutnya, seandainya kebutuhan BBM Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk memenuhi kebutuhan listrik di luar Jawa disubstitusi 50 persennya dengan bahan bakar nabati, maka potensi penghematan bahan bakar minyak sudah 2,35 juta kilo liter. Maka, rupiah yang bisa dihemat sebesar Rp 3,2 triliun.

"Yang jelas, kita bisa tekan atau bahkan sudah tidak perlu impor minyak," kata Unggul dalam konferensi pers "Teknologi Bahan Bakar Nabati untuk Energi Terbarukan sebagai Substitusi Bahan Bakar Minyak" yang digelar BPPT di Jakarta, Senin (16/9/2013).

Unggul memaparkan, saat ini yang perlu dilakukan pemerintah adalah mengupayakan agar industri sawit di Indonesia mau memasok kebutuhan minyak kelapa sawit untuk kebutuhan dalam negeri. Industri selama ini masih memilih untuk mengekspor minyak kelapa sawit yang dihasilkan.

Hal lain yang perlu diupayakan adalah memastikan agar pemenuhan bahan bakar nabati dari minyak kelapa sawit juga bisa dilakukan dengan cara yang ramah lingkungan. Jika tidak, walaupun energi bahan nabati menghasilkan enisi lebih rendah, penggunaannya akan merugikan sektor kehutanan dan biodiversitas.

Editor : Yunanto Wiji Utomo

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Artikel pendidikan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger