Home » » Tak Ingin Generasi Muda Jadi Usang

Tak Ingin Generasi Muda Jadi Usang

Written By Dino Cerata on Minggu, 02 Desember 2012 | 22.03

KOMPAS.com - Edukasi
News and Service // via fulltextrssfeed.com
Tak Ingin Generasi Muda Jadi Usang
Dec 3rd 2012, 06:03

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, mengatakan bahwa perkembangan zaman yang terjadi mengakibatkan pergeseran dalam metode pembelajaran yang harus diikuti agar tak tertinggal. Untuk itu, pihaknya merumuskan kurikulum baru yang akan diluncurkan pada Juni 2013 mendatang.

"Justru tidak wajar jika tak berubah. Selama rasionalitasnya tepat, maka memang harus berubah. Anak-anak ini harus dididik sesuai dengan perkembangan 10-15 tahun ke depan. Kalau tidak mereka akan mengalami keusangan," kata Nuh, saat Uji Publik Pengembangan Kurikulum 2013 di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Yogyakarta, Sabtu (1/12/2012).

Ia mengatakan kurikulum yang masih akan dievaluasi lagi setelah uji publik selesai ini mengedepankan tiga kompetensi dasar yaitu pengetahuan, keterampilan dan sikap untuk menghasilkan sumber daya manusia yang kompeten. Untuk itu, metode pembelajaran yang digunakan bukan lagi siswa diberitahu guru melainkan siswa yang mencari tahu sendiri.

"Ini dinilai perlu agar anak-anak ini mampu menjelaskan jawabannya dalam menyelesaikan suatu soal. Penguatan reasoning ini dikembangkan dalam kurikulum yang akan datang," ujar Nuh.

Berdasarkan hasil dari Trends in International Math and Science Survey pada tahun 2007, Indonesia berada pada tingkat terendah untuk anak-anak yang mampu menyelesaikan soal dengan kategori tinggi dan advance dibandingkan dengan beberapa negara Asia seperti Malaysia, Thailand, Singapura, Korea, Jepang, Taiwan dan Hongkong.

Sementara untuk soal dengan kategori rendah yang hanya membutuhkan pengetahuan dasar berupa hafalan, Indonesia berada di puncak dengan persentase 78 persen. Ini membuktikan bahwa anak-anak Indonesia tidak terbiasa dengan soal yang membutuhkan penjelasan jawaban karena yang diajarkan selalu jawaban biner.

"Anak-anak kita ini sudah biasa dengan jawaban benar dan salah. Jawabannya udah satu itu saja. Sementara proses dia mencari jawaban itu tidak diperhitungkan," ujar Nuh.

Untuk itu kurikulum baru ini, guru harus mulai membuat soal yang mengembangkan kreativitas anak didiknya dalam menjawab pertanyaan dengan proses yang terstruktur. Dengan demikian, nalar para peserta didik ini akan berkembang dan tidak hanya mandeg pada jawaban benar salah saja.

"Lihat prosesnya. Jawabannya bisa sama tapi prosesnya akan berbeda. Kalau ada jawaban yang nyeleneh, juga harus ditolerir," ungkapnya.

"Jangan sampai mereka jadi generasi usang karena kita salah mendidik tanpa melihat perkembangan zaman," tandasnya.

Editor :

Caroline Damanik

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Artikel pendidikan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger