Home » » Pemerintah "Ogah-ogahan" Benahi Guru

Pemerintah "Ogah-ogahan" Benahi Guru

Written By Dino Cerata on Rabu, 19 Desember 2012 | 22.03

KOMPAS.com - Edukasi
News and Service // via fulltextrssfeed.com
Pemerintah "Ogah-ogahan" Benahi Guru
Dec 20th 2012, 06:03

Pemerintah "Ogah-ogahan" Benahi Guru

Penulis : Caroline Damanik | Kamis, 20 Desember 2012 | 11:23 WIB

Dibaca:

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan yang juga penggagas program "Indonesia Mengajar" (kiri) bertemu dengan jajaran redaksi harian Kompas di Jakarta, Selasa (27/3/2012). Program "Indonesia Mengajar" mendapat sambutan dari lulusan berbagai universitas ternama untuk mengajar di berbagai dusun terpencil.

PASURUAN, KOMPAS.com - Masalah pendidikan di Indonesia tak ada habisnya. Guru dinilai sebagai masalah utama pendidikan di Indonesia. Kompetensi dan kualitas para pendidik tidak merata.

Sebagian besar guru-guru Indonesia saat ini dinilai hanya mengutamakan kewajiban untuk mengajar dan mendidik secara kognitif, namun tidak bisa menghadirkan inspirasi agar para siswanya bisa meraih sesuatu.

Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan menegaskan bahwa dirinya tidak menyalahkan guru. Pemerintah melalui kementeriannya sebagai penjamin kualitas gurulah yang harus bertanggung jawab.

"Secara umum, kualitas guru tidak terlalu baik. Kalau kita membereskan guru, kita bisa selesaikan porsi terbesar masalah pendidikan. Tapi sayangnya, pemerintah enggak mau," tuturnya kepada Kompas.com, pekan lalu.

Anies mengatakan, ada lebih dari 200 ribu institusi sekolah di seluruh nusantara. Upaya untuk membenahi kompetensi dan kualitas guru tentu membutuhkan daya dan dana yang sangat besar.

"Usaha akan besar, waktu lama, tapi pemerintah maunya jalan yang cepat saja," tambahnya.

Oleh karena itu, menurut Anies, utak-atik kurikulum bukanlah jalan keluar untuk membenahi pendidikan Indonesia. Ketua Program Indonesia Mengajar itu mengatakan materi dan mekanisme penerapan kurikulum tidak jauh berbeda. Meski datang dengan kemasan yang berbeda, jika kualitas guru yang menerapkannya tetap sama, maka mustahil mencapai kemajuan yang signifikan.

"Problemnya bukan pada ubah kurikulum atau tidak tapi pada kompetensi (guru). Ini (mengubah kurikulum) seperti mencari obat yang minumnya paling enak, bukan obat yang paling efektif menyembuhkan. Kita melihat (pemerintah) cenderungnya mau gampangnya saja," tuturnya.

Anies mencontohkan, para guru yang terlibat dalam program Indonesia Mengajar yang digagas dan dijalankannya sampai saat ini bergerak dengan acuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Namun, tak ada keluhan dari anak didik di daerah-daerah mitra.

"Pengajar Muda pakai kurikulum nasional, tapi enggak ada anak yang mengeluh berat karena gurunya menyenangkan. Jadi masalahnya bukan pada materi atau orangnya?" tandasnya kemudian.

Editor :

Caroline Damanik

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Artikel pendidikan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger