JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia dan Korea bekerjasama merestorasi sungai Ciliwung, dimulai dari Ciliwung yang berlokasi di Masjid Istiqlal, Jakarta. Program restorasi itu dinamai Demonstration Project Restorasi Sungai Ciliwung.
Penandatanganan nota kesepahaman kerjasama tersebut dilakukan Senin (3/12/2012) di Masjid Istiqlal, Jakarta. Masing-masing negara diwakili oleh Menteri Lingkungan Hidup, Indonesia oleh Balthasar Kambuaya sementara Korea oleh Yoo Yeong Suk.
Dalam sambutannya, Balthasar mengungkapkan, "Demonstration Project ini akan jadi momen penting restorasi Ciliwung. Simbol baru restorasi Ciliwung masa depan. KLH sudah susun rencana restorasi Ciliwung 2010 - 2030."
Demonstration Project ini menelan dana yang cukup mengagetkan, totalnya hampir Rp 100 Miliar. KLH menggelontorkan dana Rp 10 Miliar. Sisanya Korea memberikan dana hibah sebesar 9 juta Dollar AS atau sekitar Rp 81 Miliar.
Sejumlah dana tersebut akan digunakan untuk membangun pembangunan fasilitas pengolahan limbah domestik, pembangunan pusat pendidikan dan penyediaan fasilitas ramah lingkungan. Sejumlah lembaga terlibat proyek ini, termasuk Kementerian Pekerjaan Umum dan Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta.
Program akan berlangsung selama 3 tahun. Diawali dengan rancangan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), pengerukan sungai dan konstruksi IPAL. Instalasi IPAL akan tepat dibangun di badan sungai sementara bagian atasnya akan dipergunakan untuk pusat pendidikan dan pelatihan.
Mohammad Tauchid, Kepala BPLHD DKI Jakarta mengatakan, "Nanti air limbah bisa diolah untuk digunakan kepentingan masjid seperti menyiram tanaman. Air dari wudlu bisa didaur ulang. Sisanya nanti bisa keluar ke sungai tetapi sudah bersih."
Sebagai langkah awal, program ini baik. Namun, kelanjutannya perlu dipikirkan. Jika untuk ruas Istiqlal saja dibutuhkan dana besar (walaupun sebagian besar berasal dari hibah), berapa dana yang dibutuhkan untuk restorasi Ciliwung secara keseluruhan? Di samping itu, upaya restorasi di wilayah lain juga perlu dilakukan sehingga air yang sudah bersih tidak bercampur dengan air kotor.
Terkait hal itu, Balthasar mengatakan, "Ini baru langkah awal. Kita harapkan upaya ini bisa memicu pihak lain untuk membuat di bagian lain."
0 komentar:
Posting Komentar