Home » » Sekolah anak TKI Sabah kekurangan guru agama

Sekolah anak TKI Sabah kekurangan guru agama

Written By Dino Cerata on Senin, 12 November 2012 | 20.24

ANTARA News - Nasional - Pendidikan
News And Service // via fulltextrssfeed.com
Sekolah anak TKI Sabah kekurangan guru agama
Nov 13th 2012, 02:27

Sejumlah anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari program Community Learning Center (CLC), bermain disamping sekolah mereka di Sekolah Dasar (SD) Tunas Harapan Bangsa di wilayah Papar, Sabah, Malaysia.(FOTO ANTARA/Amirullah)

Sekolah Indonesia untuk anak-anak TKI masih kekurangan guru khususnya guru agama

Berita Terkait

Kinabalu (ANTARA News) - Konsulat Jenderal RI (KJRI) Sabah Malaysia mengatakan, guru agama masih sangat kurang di sekolah Indonesia untuk anak-anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Negeri Sabah.

Konsul Jenderal RI Sabah, Soepeno Sahid, di Kota Kinabalu Sabah, Selasa, mengakui, bantuan tenaga guru untuk sekolah anak-anak TKI di Sabah dari Kementerian Pendidikan RI, jurusan agama yang sangat kurang, karenanya ia berharap pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan RI dapat mengirim tenaga guru dari jurusan agama Islam, Kristen Protestan dan Katolik.

"Sekolah Indonesia untuk anak-anak TKI masih kekurangan guru khususnya guru agama," kata Soepeno.

Selama ini pengajaran bidang studi agama terpaksa dilakukan oleh guru dari jurusan yang berbeda (bukan jurusan agama) untuk menutupi kekurangan tersebut sehingga pelajaran agama tetap berjalan, katanya.

Sebenarnya, lanjut Soepeno, jumlah tenaga guru yang ada sekarang belum sebanding dengan jumlah sekolah Indonesia di Negeri Sabah yang jumlahnya mencapai 152 unit termasuk community learning center (CLC).

"Jadi jumlah guru dengan sekolah belum sebanding, makanya masih banyak CLC khususnya di kawasan perkebunan kelapa sawit yang lokasinya sangat terpencil tenaga guru dari pekerja setempat yang latar belakang pendidikannya hanya SD dan SMP," beber dia.

Tetapi hal itu terpaksa diterima apa adanya agar anak-anak TKI di Negeri Sabah dapat mengenyam pendidikan, kata dia, sebab banyak CLC yang dibentuk sendiri oleh pekerja dengan tujuan agar anak-anak TKI dapat membaca, menulis dan menghitung.

Jika tidak demikian, ujar Soepeno, anak-anak TKI yang sudah memasuki usia sekolah, jumlahnya masih puluhan ribu orang, yang belum dapat tertampung melalui CLC.

Pada kesempatan berbeda, salah seorang guru LC Tunas Harapan Kampung Mendugi Kemanis Papar Sabah, Nengsi Yunus mengatakan, sekolah Indonesia tempatnya mengabdi sejak 2010 belum memiliki guru agama. Bahkan dari empat guru yang ada semuanya berlatar belakang pendidikan SMA dan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dengan mata pelajaran agama diajarkan oleh guru biasa.

"Mudah-mudahan pada masa yang akan datang, sekolah kami ini juga mendapatkan tenaga guru khususnya jurusan agama Islam dan Kristen," katanya.

(Ant) 

Editor: Fitri Supratiwi

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca

Kirim Komentar

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Artikel pendidikan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger