Home » » Mencintai Lingkungan, Menjaga Alam Jakarta

Mencintai Lingkungan, Menjaga Alam Jakarta

Written By Dino Cerata on Sabtu, 10 November 2012 | 00.10

KOMPAS.com - Edukasi
News and Service // via fulltextrssfeed.com
Mencintai Lingkungan, Menjaga Alam Jakarta
Nov 10th 2012, 08:10

KOMPAS Mencintai Lingkungan, Menjaga Alam Jakarta.

KOMPAS.com - Akhir pekan Oktober lalu, sejak pagi beberapa fotografer dari Indonesia Wildlife Photography sudah menempati posisi untuk membidik burung di Suaka Margasatwa Muara Angke, Jakarta.

Indonesia Wildlife Photography (IWP) digandeng Transformasi Hijau (Trashi) ikut berkampanye tentang pendidikan lingkungan. Saat itu sedang berlangsung kegiatan "Pelatihan, Survei, dan Kampanye Burung Endemik" di Jakarta.

Cuaca mendung tak menghalangi mereka mencari momen mengambil gambar. Mereka beruntung, ada burung dara laut sayap putih yang bermigrasi dari daerah dingin. Sementara beberapa jenis burung tikusan, seperti tikusan alis putih dan tikusan merah, lebih mudah didapatkan setelah sang fotografer berjam-jam berdiam di satu titik. Sayang, burung endemik di wilayah itu, burung jalak putih dan bubut jawa, jarang ditemukan, bahkan hampir punah!

Cerita itu hanya sebagian kegiatan Trashi yang fokus pada pendidikan lingkungan. Trashi itu komunitas sukarelawan bidang pendidikan lingkungan, agar MuDAers berperan lebih besar pada pelestarian lingkungan.

Koordinator Riset dan Program Trashi, Ady Kristanto, mengungkapkan, ia menggandeng pihak lain setiap kali berkegiatan. "Kami berkolaborasi dengan pihak lain, misalnya IWP. Kami minta bantuan pendokumentasian burung endemik."

Kegiatan positif

Trashi bertujuan menciptakan lingkungan nyaman dengan mendorong pendidikan lingkungan dan memanfaatkan ruang terbuka hijau (RTH) di Jakarta. Komunitas yang bermarkas di Bendungan Hilir, Jakarta, ini mengajak MuDAers mencintai lingkungan lewat beragam kegiatan, seperti mengenal ekosistem hutan mangrove Muara Angke di pesisir utara Jakarta.

Mereka juga membersihkan sampah; mengamati hewan di lokasi itu; membuat workshop keranjang dari barang bekas, seperti kertas koran; dan membuat kampanye cinta lingkungan dengan beragam cara.

"Mungkin anak muda terbiasa nongkrong di mal dan jadi konsumtif. Ini salah satunya karena pengetahuan tentang lingkungan mereka kurang. Kalau mereka tahu, pasti juga suka bermain di Suaka Margasatwa Muara Angke, melihat ekosistem atau sekadar bersih-bersih sampah. Kegiatan ini mengasyikkan," tutur Ulfa, pencinta alam dan anggota Trashi sejak kelas XI di SMAN 32 Jakarta.

Setelah bergabung dengan Trashi, Ulfa punya banyak agenda kegiatan lingkungan, mulai mengamati burung di Suaka Margasatwa Muara Angke, membuat kemah bersama komunitas pencinta lingkungan lain, dan membersihkan sungai.

"Sebagai anak Jakarta, saya ingin RTH semakin banyak. Lebih baik gedung yang tidak terpakai dijadikan RTH dan taman. Nongkrong di taman lebih menyenangkan daripada di mal."

Membawa perubahan

Nur Arinta (17), siswa kelas XII SMKN 20 Jakarta, tertarik segala kegiatan bertema lingkungan. Itu sebabnya ia bergabung dalam komunitas remaja peduli lingkungan Teens Go Green (TGG) yang dibentuk Yayasan Kehati.

"Awalnya saya enggak peduli lingkungan, tetapi lama-lama merasa enggak enak juga dengan panas dan polusi Jakarta. Saya jadi tertarik bergabung dengan duta lingkungan dari SMA-SMA lain dalam TGG," ujar Arinta.

Anggota TGG adalah siswa umur 14-18 tahun, yang menjadi perwakilan beberapa sekolah menengah di Jakarta.

Bagi Arinta, kondisi lingkungan Jakarta bisa dibilang akan lumpuh. "(Jakarta) lumpuh karena semua tempat sudah padat dengan gedung bertingkat. Tak banyak tempat di (Jakarta), di mana anak-anak muda bisa bermain dan berkreasi," ujarnya.

Arinta bersama 100-an anggota TGG sedang fokus mengerjakan video kampanye "Styrofoam? No, Thanks" sebagai salah satu kampanye untuk menjaga lingkungan dari sampah berbahaya dan sulit didaur ulang.

Hendra Aquan, pelopor munculnya Trashi, menuturkan, potensi anak muda mendorong kepedulian lingkungan amat besar. Selain jumlahnya banyak, mereka juga punya ide nyeleneh atau unik, yang bisa menarik perhatian dan tenaga orang untuk mendukung ide tersebut.

"Kalau orang sudah tertarik ide nyeleneh itu, kampanye kepedulian lingkungan lebih mudah dilakukan," ujar Hendra.

Anggota aktif Trashi sekitar 30 orang, tetapi anggota pasif mencapai ratusan orang. Organisasi yang muncul tahun 2009 dan mulai mendapat legalitas tahun 2010 itu lebih menyasar anak muda untuk bertindak menjaga lingkungan. Trashi mendorong cinta lingkungan dengan berbagai cara.

"Selama ini saya yakin ada korelasi antara kurangnya RTH dan kenakalan serta kekerasan remaja atau warga Jakarta secara umum," katanya. Orang yang jenuh dengan ruang dan sekat yang membatasi diri, seperti rumah, apartemen, kantor, dan gedung, akan mudah stres.

"Stres memicu tindakan kekerasan dan kenakalan seseorang. Jika nantinya di Jakarta semakin banyak RTH, saya yakin jiwa yang tertekan akibat "terkotak-kotak" dalam ruangan itu bisa merasakan kelapangan dan kesegaran hidup," ujarnya.

Nah, asyik juga, kan, ikut kegiatan pendidikan lingkungan. MuDAers bisa menambah pengetahuan, teman, dan perubahan lingkungan hidup.

Editor :

Caroline Damanik

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Artikel pendidikan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger