JAKARTA, KOMPAS.com - Sistem pendidikan Indonesia masuk dalam peringkat terendah berdasarkan tabel liga global yang diterbitkan oleh firma pendidikan Pearson. Peringkat ini dilakukan berdasarkan sejumlah indikator, antara lain keberhasilan negara memberikan status tinggi pada guru dan respon masyarakat terhadap pendidikan. Di Tanah Air, pro-kontra pun bermunculan terhadap hasil penelitian ini.
Pendiri Surya Institute, Yohanes Surya, mengaku sedih menerima informasi ini. Namun, dia mengakui bahwa sistem pendidikan Indonesia memang dalam kondisi yang buruk. Apa sebabnya?
"Sistem pendidikan Indonesia terendah karane kualitas gurunya," ungkap Yohanes Surya kepada Kompas.com di sela peluncuran novel 'Tofi: Perburuan Bintang Sirius' di The Cone, fX Plaza, Jakarta, Rabu (28/11/2012).
Fisikawan ternama ini mencoba membandingkan Indonesia dengan Finlandia yang duduk di peringkat pertama tabel liga Pearson. Menurutnya, kualitas guru di Finlandia memang terbaik di dunia.
"Kita lihat di Finlandia, kenapa bisa masuk peringkat tertinggi? Ya karena yang masuk ke sekolah guru di Finlandia adalah putra-putri terbaik. Jadi para lulusan terbaiknya itu menjadi guru," tuturnya.
"Sekarang kita lihat. Bandingkan dengan guru kita yang di daerah-daerah. Itu guru yang ngajar IPA misalnya adalah guru Olahraga karena enggak ada guru. Akhirnya kualitasnya kacau. Selain itu, guru Matematika misalnya, bisa yang ngajar adalah guru Agama, kacau kan. Jadi kualitas gurunya," tambahnya lagi.
Jika kualitas gurunya sangat baik, Yohanes Surya menjamin, kualitas murid yang dihasilkan pun tak kalah baiknya, bahkan bisa lebih hebat. Dia yakin karena sudah membuktikannya bersama sejumlah guru berkualitas dari Surya Institute dalam membina anak-anak yang dianggap bodoh dari wilayah timur Indonesia untuk menjadi para pemenang olimpiade fisika nasional maupun internasional.
"Artinya apa? Coba kalau di kampung ada guru semacam itu, berarti sama dong kualitasnya, dan semua daerah bisa bangkit kan. Jadi yang membuat rendah itu kualitas guru," katanya.
Namun, Yohanes Surya menegaskan bahwa guru juga tidak bisa disalahkan. Pemerintah sebagai pemegang tanggung jawab terhadap kualitas guru nasional harus bekerja keras.
"Gurunya jangan disalahin. Yang disalahin ya yang enggak ngasih metode, yang enggak ngelatih," ungkapnya.
Yohanes Surya memuji langkah menggelar sertifikasi atau uji kompetensi guru (UKG). Namun, dia mengingatkan agar pemerintah menjalankannya dengan transparan, metode yang tepat dan sesuai kebutuhan guru masing-masing.
"Latih guru habis-habisan, tapi dengan metode yang benar. Besar-besaran, seluruh guru harus dilatih dan guru yang ga mau dilatih ya ga usah jadi guru lagi gitu. Misalnya kayak sekarang sertifikasi, sebenarnya langkahnya itu sudah baik, tapi pelaksanaannya dilakukan, jangan cuma proyek aja. Benar-benar sertifikasi digenjot. Guru benar-benar dicek kualitasnya," tandasnya.
Editor :
Caroline Damanik
0 komentar:
Posting Komentar