JAKARTA, KOMPAS.com - Meski telah mempersiapkan diri karena undangan sudah diperoleh seminggu sebelumnya, Wahyu Tri Purboretno mengaku sempat merasa grogi saat memulai mengerjakan soal dalam Uji Kompetensi Guru (UKG) gelombang kedua, Rabu (10/10/2012). Retno, demikian panggilannya, pun mengungkapkan alasannya sehingga grogi saat mulai mengerjakan soal secara online dan memperoleh nilai yang tidak sesuai harapannya.
"Tadi awalnya emang grogi karena kan nggak biasa ya ngerjain lewat komputer gini," kata Retno yang kebagian tempat uji kompetensi (TUK) di SMP Negeri 19, Jakarta Selatan.
Akibatnya, guru Bimbingan dan Konseling ini hanya pasrah mendapatkan hasil yang kurang maksimal. Selain ketidakbiasaan itu, dia mengungkapkan kesulitan yang dialaminya dalam mengerjakan soal. Retno menuturkan bahwa banyak istilah yang diujikan yang kurang dipahaminya sehingga nilai yang diperolehnya pun tidak mencapai nilai batas minimum.
"Kalau guru BK kan biasanya langsung praktek. Ini yang diujikan semuanya teori. Belum lagi banyak istilah baru yang dulu saat kami belajar belum ada," ungkap Retno.
"Ini pertama kalinya saya ikut uji kompetensi. Kami baru diundang gelombang kedua ini," tambahnya kemudian.
Menurutnya, UKG semacam ini memang penting dilakukan secara berkala karena memiliki tujuan yang baik untuk mendongkrak kualitas dan kompetensi guru. Dengan demikian, untuk ke depannya dapat berdampak besar pada dunia pendidikan.
Editor :
Caroline Damanik
0 komentar:
Posting Komentar