JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Tenaga Nuklir Nasional menetapkan studi tapak untuk pembangkit listrik tenaga nuklir di Pulau Bangka berlangsung hingga tahun 2013 meskipun calon pemilik dan operator PLTN belum ada. Studi ini melibatkan para konsultan dari luar negeri dengan dana Rp 160 miliar.
"Studi kelayakan dan studi tapak ini seperti di Muria, Jawa Tengah, meskipun akhirnya tak terpakai karena penolakan masyarakat lokal," kata Kepala Pusat Pengembangan Energi Nuklir pada Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) A Sarwiyana Sastratenaya, Sabtu (29/9/2012), dalam Internasional Seminar on Natural Hazard Mitigation to Critical Installation di Universitas Pancasila, Jakarta.
Bangka dipilih karena memiliki lapisan batuan metamorf yang kuat dan tanpa gunung api. Lautnya mencapai 20 meter hingga 30 meter dan tak jauh untuk distribusi listrik ke Jawa dan Sumatera. "Bangka relatif aman dari gempa," kata Sarwiyana.
Pada seminar itu, hadir berbicara Antonio R Godoy sebagai ahli bencana alam dan Leonello Serva sebagai ahli seismotektonik dari Italia, yang digandeng PT Surveyor Indonesia untuk studi tapak PLTN di Bangka.
Godoy menjelaskan, PLTN termasuk fasilitas kritis yang butuh instalasi kritis pula. "Kecelakaan nuklir di suatu tempat akan menjadi kecelakaan bagi wilayah lain," katanya.
Oleh karena itu, pencegahan kecelakaan harus dioptimalkan. Demikian pula aspek mitigasi/pengurangan risiko celaka.
Menurut Serva, gempa adalah bencana alam yang paling banyak menimbulkan risiko kecelakaan berbagai fasilitas kritis, seperti PLTN. Studi gempa penting untuk penentuan tapak PLTN, seperti dilakukan di Bangka.
Studi tapak di Bangka, lanjut Sarwiyana, dilakukan belajar dari pengalaman studi tapak di Semenanjung Muria. Saat itu, mereka belum disertai kelengkapan data status Gunung Muria yang tergolong sangat lama tidak aktif, tetapi belum mati.
0 komentar:
Posting Komentar