Home » » Psikolog: ASS Butuh Penerimaan, Bukan Sindiran

Psikolog: ASS Butuh Penerimaan, Bukan Sindiran

Written By Dino Cerata on Rabu, 10 Oktober 2012 | 03.10

KOMPAS.com - Edukasi
News and Service // via fulltextrssfeed.com
Psikolog: ASS Butuh Penerimaan, Bukan Sindiran
Oct 10th 2012, 10:09

KOMPAS.com/Caroline Damanik Bagian depan kompleks sekolah Yayasan Budi Utomo di kawasan Sukmajaya, Depok, Selasa (9/10/2012).

JAKARTA, KOMPAS.com - AAS (15), korban penculikan dan perkosaan oleh sindikat yang dikenalnya melalui situs jejaring sosial di Depok, Jawa Barat, beberapa waktu lalu, telah menjalani konseling psikologi di Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Rabu (10/10/2012). Psikolog menilai, AAS mampu menghadapi masalahnya dengan kuat. Namun, usaha AAS itu tergantung dari penerimaan lingkungan sekitar terhadapnya.

Liza Marielly Djaprie, psikolog yang menangani AAS, menyayangkan perlakuan sekolah pascaperistiwa yang mengguncang jiwanya tersebut. Pasalnya, sebenarnya korban dianggap mampu mengatasi trauma penculikan dan perkosaan yang dialaminya. Namun, pihak sekolah malah berperilaku kontraproduktif dengan menyindir dan mengusir AAS karena dianggap mencoreng nama baik sekolah.

"Ini sangat disayangkan, karena akar masalahnya dia sudah bisa dihadapinya dengan baik. Justru ketika dia mau bersosialisasi dia malah di-reject," ujar Liza usai melakukan konseling dengan AAS di Kantor Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Rabu (10/10/2012).

Menurut Liza, tindakan menyindir AAS di depan seluruh teman-teman sekolahnya di upacara bendera tersebut mengakibatkan guncangan besar bagi kondisi psikologis AAS. Seharusnya, pihak sekolah sebagai institusi pendidikan mampu mengambil langkah profesional melalui pembinaan psikologis terhadap sang anak.

Sementara, berdasarkan hasil konseling dengan AAS dan orang tuanya, secara umum dia tak menemui kondisi trauma berlebihan pada diri korban atau AAS dalam kondisi psikologis yang baik. Namun, pihak keluarga harus mewaspadai gejala trauma jangka panjang akibat peristiwa tersebut. Pasalnya, gejala itu dapat dilihat secara keseluruhan dalam waktu 6 bulan.

"Jika ada enam bulan ini ada perubahan perilaku secara signifikan, misalnya sering mimpi buruk, tak nafsu makan, enggan bersosialisasi dengan orang sekitar, mungkin langsung bisa diberi tahu kepada psikolog lagi," ujarnya.

ASS adalah korban penculikan dari sindikat perdagangan manusia untuk keperluan seks komersial. Selama satu minggu, dia disekap oleh penculiknya dan dibawa berpindah tempat agar tidak dapat ditemukan. Sindikat itu menggunakan situs jejaring sosial demi menjerat mangsanya. ASS pun berhasil melarikan diri.

Rupanya, cerita nahas ASS tak berhenti sampai di situ. Saat berniat kembali ke sekolahnya di SMA Budi Utomo, Senin (8/10/2012), ASS menerima sindiran keras dari kepala sekolah dan pimpinan yayasan di depan teman-temannya dalam upacara bendera. Sindiran itu ditujukan untuk dirinya karena dianggap mencoreng nama baik sekolah atas kejadian yang dialami ASS. Tak hanya itu, ASS mengaku diusir dari kelas oleh seorang guru. Saat RG datang ke sekolah, ASS turun dari ruang kelasnya yang berada di lantai atas sambil didampingi seorang guru yang membawakan tasnya.

Editor :

Caroline Damanik

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Artikel pendidikan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger