Home » » Pendidikan Berbasis Kebudayaan Jadi Fokus

Pendidikan Berbasis Kebudayaan Jadi Fokus

Written By Dino Cerata on Kamis, 04 Oktober 2012 | 03.03

KOMPAS.com - Edukasi
News and Service // via fulltextrssfeed.com
Pendidikan Berbasis Kebudayaan Jadi Fokus
Oct 4th 2012, 10:02

YOGYAKARTA, KOMPAS - Setelah Undang-Undang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta disahkan, Yogyakarta harus kembali fokus sebagai pusat pendidikan berbasis kebudayaan. Karena itu, penguasaan inovasi dalam hal pendidikan berbasis kebudayaan perlu ditingkatkan.

Demikian diungkapkan Pengasuh Pondok Pesantren Abdullah Ibnu Abbas Banguntapan, Kabupaten Bantul, DIY, KH M Jazir ASP dalam dialog budaya dan gelar seni "Yogyakarta Menyongsong Peradaban Baru" yang digelar Komunitas Budaya Yogya Semesta, Selasa (2/10) malam, di Pendapa Kepatihan, Yogyakarta.

Hadir sebagai pembicara dalam dialog itu, antara lain, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Lono Lastoro Simatupang, dan sejarawan dari Pusat Sejarah dan Etika Politik Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, G Budi Subanar SJ.

Jazir mengingatkan, Yogyakarta memiliki banyak material tradisi ataupun kebudayaan yang bisa dikembangkan. Tetapi, "kekayaan" itu hingga saat ini belum banyak yang dimanfaatkan.

"Yogyakarta penuh dengan keistimewaan, hanya kita tidak pernah mau menggalinya. Potensi ini harus dimunculkan, sebab hanya negara atau daerah yang memiliki daya inovasi tinggi yang akan menguasai dunia," ujarnya.

Jazir mencontohkan, Korea Selatan kini tumbuh berkembang menjadi negara maju. Hal itu bukan semata-mata karena penguasaan pada teknologi, tetapi juga pada kemampuan mereka berinovasi dalam sektor industri kreatif, seperti produksi film kartun, komik, serta drama. Sektor industri kreatif ini mampu menopang 40 persen perekonomian negara itu.

Bukan industri mesin

Lono Simatupang menambahkan, peradaban baru Yogyakarta melalui pengembangan pendidikan dan kebudayaan diharapkan jangan jatuh pada industrialisasi mesin. Sebab, ketika segala sesuatu diindustrikan, maka kearifan lokal di dalamnya justru akan mati.

"Sebagai contoh pada batik. Ketika muncul industrialisasi batik cap, maka kehadirannya mematikan batik tulis," kata Lono.

Pada dasarnya penciptaan budaya tidak pernah ditujukan pada industri. Karena itu, masyarakat Yogyakarta juga tidak boleh takabur dengan menjadikan industri sebagai jalan kunci untuk menyongsong peradaban baru Yogyakarta.

Budi Subanar mengatakan pula, peradaban baru Yogyakarta setelah pengesahan Undang-Undang Keistimewaan DI Yogyakarta dapat dimulai dengan menempatkan desa, kampung, dan komunitas sebagai basis kebudayaan dan dasar keistimewaan. Ini semua dilakukan dengan tepung (mengenali), srawung (bergaul/berinteraksi), dan dunung (berproses mencapai perkembangan optimal).

"Di dalam dunung kita tetap perlu mengulir budi. Dengan cara demikian, Keistimewaan Yogyakarta akan menempatkan dan menawarkan diri sebagai model bagi pihak lain untuk belajar," kata Budi Subanar. (ABK)

Editor :

Caroline Damanik

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Artikel pendidikan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger