Home » » Penambahan Jam Belajar Diprotes

Penambahan Jam Belajar Diprotes

Written By Dino Cerata on Rabu, 17 Oktober 2012 | 03.21

Republika Online - Berita Pendidikan RSS Feed
// via fulltextrssfeed.com
Penambahan Jam Belajar Diprotes
Oct 17th 2012, 10:00

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menambah jam belajar siswa dinilai tidak efektif. Kebijakan tersebut diyakini justru membawa dampak merugikan bagi siswa.

Presidium Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Guntur Ismail mengatakan, ada beberapa kerugian yang timbul akibat penambahan jam belajar siswa. "Kesempatan siswa untuk mengembangkan diri melalui belajar tambahan akan tertutup," kata Guntur.

Dari berbagai pengamatan FSGI terhadap siswa tanah air, didapat simpulan bahwa siswa yang lebih unggul dalam pembelajaran adalah siswa yang aktif dan memiliki hobi membaca. Kelebihan itu tidak muncul tiba-tiba melainkan perlu adanya ketersediaan waktu yang dikelola oleh siswa dengan kerja sama berbagai pihak.

Adapun usaha pengelolaan waktu yang sudah dilakukan oleh siswa adalah menambah lagi waktu belajar di luar sekolah. Misalnya, melalui belajar mandiri, belajar kelompok di rumah siswa, kelompok ahli yang dipimpin tutor sebaya, dan les privat atau belajar tambahan di lembaga bimbingan belajar. "Pola belajar seperti ini menyenangkan siswa dan akan berujung pada keadaan sangat positif, yakni cepat tercapainya kompetensi dasar," ucapnya.

Pola belajar menyenangkan dan tidak membosankan, kata Guntur, adalah amanat kurikulum nasional. Untuk itu, FSGI menilai adanya penambahan jam belajar siswa bertentangan dengan tuntutan kurikulum nasional dan amanat PP Nomor19 Tahun 2005 yang mendorong tumbuhnya kreativitas dan minat baca siswa Indonesia. Penambahan jam belajar dinilai sebagai upaya tirani atau pengekangan terhadap emosi siswa. "Suatu saat, ini akan menimbulkan terjadinya ledakan emosi yang luar biasa," kata Guntur.

Menurut Guntur, adanya penambahan jam belajar juga akan berakibat pada tidak ada atau berkurangnya waktu bagi siswa untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Alasannya, siswa mengalami kelelahan sehingga kemungkinan besar, sepulang sekolah, siswa akan memilih istirahat (tidur). "Dari keadaan ini dapat diperkirakan peluang siswa yang tidak mengerjakan PR sangat besar dan risiko minat baca siswa semakin rendah," ujarnya.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Artikel pendidikan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger