Home » » "Kalau Cinta Tanah Air, Pasti Malu Berbuat Tak Baik..."

"Kalau Cinta Tanah Air, Pasti Malu Berbuat Tak Baik..."

Written By Dino Cerata on Minggu, 07 Oktober 2012 | 23.17

KOMPAS.com - Edukasi
News and Service // via fulltextrssfeed.com
"Kalau Cinta Tanah Air, Pasti Malu Berbuat Tak Baik..."
Oct 8th 2012, 06:17

"Kalau Cinta Tanah Air, Pasti Malu Berbuat Tak Baik..."

Penulis : Ali Sobri | Senin, 8 Oktober 2012 | 11:42 WIB

Dibaca:

REPRO: KOMPAS/FERRY SANTOSO

Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, berfoto bersama para pejabat tinggi negara, seperti Muhammad Hatta dan Haji Agus Salim, di Muntok, Pulau Bangka, tahun 1949. Foto ini merupakan koleksi seorang warga Muntok, R Affan.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com - Tawuran dinilai muncul pula dari tipisnya rasa cinta terhadap bangsa dan tanah air. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Gumelar, yakin bahwa aksi tawuran yang marak belakangan terjadi ini dapat dihentikan dengan memupuk rasa cinta tanah air dan semangat merah putih anak-anak Indonesia.

"Nomor satu itu itu cinta tanah air, semangat merah putih, sayang. Sudah itu aja. Kalau sudah cinta, kita semua akan malu kalau berbuat yang tidak baik untuk diri kita sendiri, sekolah, orangtua, dan bangsa ini," ujarnya di hadapan para siswa dalam upacara bendera di SMA Negeri 6 Jakarta, Senin (8/10/2012).

Linda mengatakan, nilai cinta tanah air dalam upacara, pembacaan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, dan ikrar pelajar seharusnya bisa mengingatkan para pelajar akan semangat perjuangan kemerdekaan para pahlawan untuk mengaplikasikan semangat yang sama dalam kehidupan sehari-hari.

"Apalagi menjelang 28 Oktober, hari pemuda Indonesia bersatu. Kalau nilai-nilai dan semangat ini ada pada anak-anakku sekalian, kalian bisa ekplorasi hak dan kewajiban anak untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan positif. Jadi, enggak usah mikirin dendam lagi, pikirkan apa yang bisa saya lakukan untuk negeri ini," tuturnya.

Untuk memperoleh semangat itu pula, Linda mendorong generasi muda untuk mengunjungi makan para pahlawan dan memahami gigihnya perjuangan para pahlawan dalam memperoleh kemerdekaan Indonesia.

"Lain kali, sekali-kali kunjungi makam pahwalan, datang bukan sembarang datang tapi renungi, jiwai untuk meneruskan semangat meraih kemerdekaan, dan terus berkontribusi untuk bangsa, terus bicara di tingkat dunia. Hentikan bullyiing, stop tawuran dan anarkis, baru itu anak Indonesia!" serunya.

Selain itu, Linda juga menyarankan agar sekolah terus memberikan ruang bagi siswa untuk berkreasi dalam upaya menghentikan aksi tawuran dan kekerasan pelajar. Sekolah juga harus memiliki langkah-langkah kongkret untuk menciptakan sekolah ramah anak dan menjaga suasana belajar yang kondusif.

Editor :

Caroline Damanik

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Artikel pendidikan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger