Jakarta (ANTARA News) - Marak K-pop (pop Korea) di Indonesia membuat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh berkomentar.
"Budaya K-pop, Suju (super junior), sopo Suju iki (siapa Suju ini), kok begitu kuatnya," kata Mohammad Nuh saat memberi sambutan pada temu redaktur kebudayaan di Jakarta.
Nuh mengatakan dirinya heran saat melihat "mereka mau datang ke Indonesia, di Bandara anak-anak kita bawa spanduk 'we love Suju', begitu tahu Suju keluar lewat pintu lain, mereka histeris menangis padahal Suju itu bukan saudara, bukan tetangga."
Mendikbud mengemukakan hal tersebut untuk menunjukkan salah satu tren peradaban yaitu peradaban yang kuat akan mengakuisisi peradaban yang lemah.
Dia mengemukakan di era informasi dan teknologi, tidak terelakkan bahwa peradaban bangsa-bangsa berbaur. "Tapi kita tidak boleh mendominasi, yang lain pun tidak boleh mendominasi kita agar tidak ada benturan," katanya.
Nuh mengatakan dirinya baru saja bertemu Dubes Korea Selatan dan salah satu poin dalam pembicaraan itu adalah soal kerjasama budaya.
"Karena kita tidak ingin kebudayaan kita didominasi," katanya.
Dia mengingatkan nenek moyang bangsa Indonesia memiliki peradaban yang luar biasa, contohnya di Sangiran dan Muaro Jambi. Peradaban di Muaro Jambi pada abad ke-9, katanya, menjadi tempat belajar bangsa Vietnam, India, dan China.
"Jadi kita turunan orang luar biasa. Masak turunan luar biasa tidak bisa jadi orang luar biasa?," katanya.
(A038)
0 komentar:
Posting Komentar