Home » » Ini Akibat Jika Anak Tak Dibiasakan Berdialog

Ini Akibat Jika Anak Tak Dibiasakan Berdialog

Written By Dino Cerata on Kamis, 04 Oktober 2012 | 03.03

KOMPAS.com - Edukasi
News and Service // via fulltextrssfeed.com
Ini Akibat Jika Anak Tak Dibiasakan Berdialog
Oct 4th 2012, 10:02

Tawuran Pelajar Memprihatinkan

Ini Akibat Jika Anak Tak Dibiasakan Berdialog

Penulis : Riana Afifah | Kamis, 4 Oktober 2012 | 16:12 WIB

Dibaca:

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO Siswa SMAN 70 melakukan tabur bunga di lokasi tawuran antara SMAN 70 dan SMAN 6 di Kawasan Bulungan, Jakarta Selatan, Senin (1/10/2012). Hari itu merupakan hari pertama mereka kembali bersekolah setelah diliburkan selama lima hari karena peristiwa tawuran yang mengakibatkan satu siswa SMAN 6 meninggal dunia. Mereka berikrar untuk mengakhiri tawuran yang seringkali terjadi antara kedua sekolah.

JAKARTA, KOMPAS.com - Relasi yang tak setara, baik antarsiswa maupun antara siswa dan guru, di sekolah dinilai sebagai salah satu faktor utama penyebab terjadinya kekerasan di sekolah. Pendidikan yang diterapkan tidak membiasakan siswa berdialog dalam relasinya dengan rekan-rekan sesama siswa dan guru.

"Ini sebenarnya akibat dari pendidikan tidak dialogis dan searah. Anak-anak tidak dibiasakan berdialog, jadinya kekerasan dan saling menindas yang mereka lakukan," tutur Sekretaris Jendral Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listiyarti, saat deklarasi guru anti kekerasan di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Kamis (4/10/2012).

Peristiwa tawuran pelajar yang terjadi beberapa waktu lalu masih terus menjadi pembicaraan hangat, terutama kasus SMA Negeri 6 dan SMA Negeri 70 yang kerap disebut tawuran yang menjadi tradisi. Retno mengatakan bahwa masalah di kedua SMA berlabel unggulan itu sudah terjadi dalam dua dekade dan tak pernah ada solusi yang benar-benar bisa menghentikan budaya tawuran di kawasan itu.

Menurutnya, senioritas yang kental tak pernah dibawa dalam forum dialog internal yang bertujuan mencari solusi tawuran di masing-masing sekolah. Akibatnya, senioritas diwariskan turun-temurun dengan kebiasaan kekerasan yang tak berubah dan bahkan diklaim sebagai tradisi yang mesti diteruskan oleh generasi ke generasi.

"Bayangkan saja, ada sekolah yang memiliki parkir khusus hanya untuk siswa kelas XII. Belum lagi, pembagian kantin sekolah. Kalau bukan kelas XII, tidak boleh di kantin itu," ujar Retno.

"Ini harusnya kan tidak terjadi. Saya menduga hal seperti ini sebenarnya terjadi hampir di semua sekolah baik negeri maupun swasta," tandasnya.

Berita terkait peristiwa ini dapat diikuti dalam topik "Tawuran Berdarah"

Editor :

Caroline Damanik

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Artikel pendidikan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger