Home » » Anak-anak dan Orang Dewasa Hadapi Masalah Gigi Berlubang

Anak-anak dan Orang Dewasa Hadapi Masalah Gigi Berlubang

Written By Dino Cerata on Senin, 01 Oktober 2012 | 09.07

KOMPAS.com - Edukasi
News and Service // via fulltextrssfeed.com
Anak-anak dan Orang Dewasa Hadapi Masalah Gigi Berlubang
Oct 1st 2012, 16:07

Kesehatan

Anak-anak dan Orang Dewasa Hadapi Masalah Gigi Berlubang

Penulis : Ester Lince Napitupulu | Senin, 1 Oktober 2012 | 19:19 WIB

Dibaca:

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Ilustrasi : Perawatan Kesehatan Mulut dan Gigi sejak Usia Dini - Murid SD Muhammadiyah Kronggahan mempelajari cara menggosok gigi yang benar dengan dipandu petugas dari Puskesmas Gamping II di Desa Trihanggo, Gamping, Sleman, DI Yogyakarta, Senin (4/6/2012). Penanaman kebiasaan menggosok gigi secara benar dan teratur sejak usia dini dapat membantu mereka mengurangi laju penurunan kondisi kesehatan mulut dan gigi.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Masalah gigi berlubang masih banyak dikeluhkan, baik oleh anak-anak maupun dewasa. Gigi berlubang ini tidak bisa dibiarkan hingga parah karena akan memengaruhi kualitas hidup yang dalam hal ini membuat mereka memiliki risiko tinggi untuk dirawat di rumah sakit, menyebabkan biaya pengobatan tinggi dan berkurangnya waktu belajar di sekolah.

Di Indonesia, sakit gigi mengakibatkan seseorang kehilangan waktu kerja atau sekolah rata-rata empat hari setiap bulannya. Untuk mengedukasi masyarakat akan pentingnya merawat kesehatan gigi dan mulut, Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) dan Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia yang didukung PT Unilever Indonesia, Tbk, melalui brand Pepsodent, menggelar rangkaian Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) di 15 fakultas kedokteran gigi-RS Gigi dan Mulut di 11 kota, pada 12 September-7 November 2012, dan dilanjutkan ke 10 kota PDGI cabang di Indonesia.

Dari hasil BKGN 2011 di 14 FKG dan 7 PDGI Cabang, sekitar 94 persen pengunjung mengalami permasalahan gigi, terlihat dari jumlah tindakan perawatan gigi yang diberikan. "Sebagian besar pasien adalah anak-anak. Hal ini sangat disayangkan karena selain bisa mengakibatkan rasa sakit, gangguan penyerapan makanan, menyebabkan penyakit di bagian tubuh lain, gigi berlubang yang tidak diobati akan memberikan dampak fisik dan psikologis selama masa pertumbuhan anak termasuk dalam berpenampilan, cara berbicara, dan bersosialisasi," kata Drg. Ratu Mirah Afifah GCClindent, Professional Relationship Manager Oral Care, PT Unilever Indonesia, Tbk, di Jakarta, Senin (1/10/2012).

Drg. Henny Krishnawati, selaku Dekan FKG Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) mengatakan, masih tingginya angka permasalahan gigi baik secara nasional maupun dari kegiatan BKGN di universitas kami sendiri menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat akan kesehatan gigi masih rendah. "Hal ini sudah seharusnya menjadi wacana berbagai pihak dan kami berharap Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) melalui kerja sama di BKGN dapat memberikan kontribusi yang signifikan untuk meningkatkan kualitas kesehatan gigi dan mulut masyarakat," jelas Henny.

Di DKI Jakarta, kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan gigi dan mulutnya masih perlu ditingkatkan. Dari data Riset Kesehatan Dasar Tahun 2007, menunjukkan sebesar 68,1 persen penduduk DKI Jakarta mempunyai pengalaman karies dengan indeks gigi berlubang 3,66. Adapun dari hasil BKGN 2011 di FKG Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) sebanyak 81 persen dari 2.114 pengunjung masih memiliki permasalahan gigi.

Editor :

Tjahja Gunawan Diredja

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Artikel pendidikan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger