BOGOR, KOMPAS.com — Beragam inovasi dari penelitian di perguruan tinggi, termasuk penelitian bidang pertanian, masih tersebar dan belum terorganisasi dengan baik. Hasil penelitian itu juga belum banyak tersinergi dengan pelaku usaha.
Wakil Presiden Boediono menyampaikan hal itu dalam Sidang Terbuka Dies Natalis Ke-49 Institut Pertanian Bogor (IPB), Selasa (25/9), di Kampus IPB Darmaga, Bogor. Hadir mendampingi Boediono antara lain Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh dan Menteri Pertanian Suswono.
"Kita perlu memikirkan pengorganisasian kapasitas penelitian (pertanian) secara lebih terpadu, sinergis, dan efektif dengan tetap menuju peningkatan nilai komoditas unggulan. Peran swasta, universitas, dan IPB sebagai ujung tombak sangat penting," kata Boediono.
Belajar dari pengalaman negara lain di bidang penelitian, menurut dia, kunci keberhasilan terletak pada konsistensi. Penelitian tidak boleh on-off, sebentar berhenti kemudian mulai lagi. Selain itu diperlukan sinergi dan keterkaitan antara hasil penelitian dan pelaku ekonomi. Ia mencontohkan, penelitian pertanian selama puluhan tahun di Brasil sukses menjaga konsistensinya karena mereka memikirkan bagaimana penerapannya dalam bisnis di lapangan.
Dalam orasi ilmiahnya, Boediono mengangkat tema "Transformasi Pertanian untuk Memperkokoh Ketahanan Pangan Nasional". Menurut dia, ketahanan pangan yang berkelanjutan hanya dapat dicapai dengan melakukan transformasi pertanian.
Ketahanan pangan mencakup dua hal, yakni masalah ketersediaan pangan dan keterjangkauan pangan oleh setiap warga negara dan rumah tangga. Sementara transformasi pertanian mencakup tiga hal, yakni modernisasi (teknologi, institusi, dan infrastruktur pertanian), integrasi sektor pertanian dengan sektor-sektor perekonomian nasional lain, serta memaksimumkan peran pertanian dalam mendukung pembangunan pada umumnya dan penciptaan nilai tambah dari sektor pertanian nasional pada khususnya. (WHY)
Editor :
Caroline Damanik
0 komentar:
Posting Komentar