M. Jusuf Kalla. (ANTARA)
"Mengembalikan disiplin murid, jangan selalu diartikan dengan kekerasan."
Berita Terkait
Jakarta (ANTARA News) - Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), M. Jusuf Kalla (JK), berpendapat bahwa adanya ancaman dari pihak tertentu (
bullying) di lingkungan sekolah dapat menjadi bibit tawuran antar-pelajar.
"Kekerasan tumbuh dari bibit bullyin,` yang awalnya hanya mengganggu teman sekolah, lalu merambat ke luar sekolah," kata Wakil Presiden RI periode 2004-2009 itu di Jakarta, Jumat.
Menanggapi maraknya tawuran antar-pelajar yang terjadi di kawasan Jakarta akhir-akhir ini, Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat itu menilai, sekolah harus menerapkan sistem manajemen kependidikan yang baik.
"Sistem yang baik itu tidak hanya mengatur murid saat di dalam sekolah, tapi juga mencakup mereka saat di luar sekolah," ujarnya.
Ketika murid melakukan pelanggaran, menurut dia, para guru juga berhak menerapkan hukuman untuk mendisiplinkannya.
"Mengembalikan disiplin murid, jangan selalu diartikan dengan kekerasan," ujarnya.
Oleh karena itu, JK menagemukakan, sistem sekolah yang baik ditambah kegiatan ekstrakurikuler yang positif akan mampu mematikan bibit-bibit kekerasan di lingkungan internal, seperti bullying, dan secara otomatis menghentikan siklus kekerasan di antara siswa.
"Jika masih ada pelanggaran, maka saatnya disiplin ditegakkan," katanya.
Dalam seminggu ini, dunia pendidikan nasional disuguhi tawuran pelajar di Jakarta. Bahkan, ada pelajar yang tewas dalam kasus tawuran di antara siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) 6 dengan SMA 70. Alawy Yusianto Putra, siswa kelas X di SMA 6 tewas pada pada Senin (24/9).
Sehari kemudian, Selasa (25/9), Deni Januar (siswa kelas XI SMK Yake) juga tewas dalam tawuran antara pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Yayasan Karya 66 (Yake) dan SMK Kartika Zeni di Jakarta.
(T.A060)
Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com
Komentar Pembaca
Kirim Komentar
0 komentar:
Posting Komentar