Rayong, KompasOtomotif - Pasar mobil di China dan Eropa boleh turun, tapi di Asia Tenggara justru terjadi sebaliknya. Kondisi ini membuat Ford Motor Company mulai sadar akan potensi negara-negara yang tergabung dalam ASEAN dan mengaku penjualan mereka naik sampai 20 persen di Thailand, Indonesia, Filipina, dan Malaysia. Persentase itu dua kali lebih besar dari lonjakkan penjualan di China dan AS, Juli 2012.
Thailand, pasar mobilnya baru saja pulih dari bencana banjir akhir tahun ini, berhasil mencatatkan kenaikan tertinggi sampai 40 persen. Matt Bradley, Presiden Ford ASEAN mengatakan, seluruh telah disiapkan dan bakal terhindar dari banjir. Ford juga mulai memamerkan pabrik barunya di Rayong, Thailand ditandai dengan produksi ke 350 juta kendaraan sejak perusahaan berdiri pada 109 tahun yang lalu.
Pasar
Kalau dari besar pasar otomotif, ASEAN masih terbilang kecil dibandingkan negara lain, jumlahnya sekitar Rp 3,5 juta unit saja. Ford memprediksi total pasar bisa terdongkrak jadi 5 juta unit pada 2020 mendatang. "Mirip China dan India, kalau melihat potensi pertumbuhannya," beber Bradley.
Diprediksi lonjakkan pendapatan penduduk bakal naik rata-rata 14 persen per tahun dalam lima tahun ke depan. "Jumlah ini jauh lebih besar dari pasar tradisional," ujar Gary Johnson, Vice President of Manufacturing Asia Pacific and Africa region Ford. Dijelaskannya, gaji minimum di Thailand di pabrik Ford di Rayong, adalah 9 dollar AS per hari (Rp 180.000) atau 2.340 dollar per tahun. Nah, Ford memprediksi seorang bisa membeli kendaraan ketika mereka punya gaji per tahun rata-rata 5.000-7.000 dollar AS.
Sampai kini, Ford menguasai 2 persen pangsa pasar di ASEAN. Pemimpin utama adalah Toyota Motor Corporation dengan 40 persen di Thailand. Tapi, Ford percaya diri bisa meningkatkannya dengan meluncurkan delapan produk global di kawasan ini, termasuk Indonesia. Dari produk itu yang sudah diluncurkan, Focus, Range dan Eco Sport.
0 komentar:
Posting Komentar