JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh kembali menyinggung mengenai bonus demografi yang dimiliki Indonesia, di mana pada periode 2010-2035 Indonesia dikaruniai potensi sumber daya manusia berupa populasi usia produktif terbesar sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia.
"Potensi sumber daya manusia tersebut harus dikelola dengan baik agar berkualitas sehingga benar-benar menjadi bonus demografi," kata Nuh, saat memberikan sambutan dalam upacara peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-67 di gedung Kemdikbud, Jakarta, Jumat (17/8/2012).
Nuh mengingatkan, hal sebaliknya akan terjadi jika bonus demografi itu tak berhasil dikelola dengan baik. Yang terjadi adalah Indonesia akan diterpa bencana demografi. Baginya, di sinilah peran penting dunia pendidikan dan kebudayaan dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas.
Dijelaskannya, hal itu dipertegas dengan koefisien korelasi pendidikan terhadap indeks pembangunan manusia (IPM) secara keseluruhan adalah 0.99. Hal itu ia artikan bahwa pendidikan memiliki kontribusi terhadap peningkatan indeks kesehatan dan indeks kesejahteraan (pendapatan per kapita).
"Periode ini (2010-2035) adalah momentum yang harus kita jadikan sebagai periode investasi besar-besaran di bidang sumber daya manusia. Kita tentu tidak ingin kehilangan momentum tersebut," ucapnya.
Pesan Mendikbud mengenai pemanfaatan bonus demografi adalah salah satu pesan yang ia sampaikan di banyak kesempatan. Baik dalam pidato di peringatan hari nasional, maupun dalam sambutannya di berbagai lokasi yang ia kunjungi.
Sebagai wujudnya, pemerintah juga telah mengeluarkan beberapa kebijakan untuk menyokong suksesnya pemanfaatan bones demografi. Mulai dari bantuan operasional sekolah untuk semua jenjang, beasiswa berprestasi untuk siswa, mahasiswa, dan guru. Yang teranyar adalah akan diluncurkannya program pendidikan menengah universal (PMU) mulai 2013 yang juga diklaim sebagai rintisan program wajib belajar 12 tahun.
0 komentar:
Posting Komentar