JAKARTA, KOMPAS.com - Banyaknya mainan anak-anak yang beredar tanpa disertai petunjuk berbahasa Indonesia dinilai berbahaya bagi anak. Baik orang tua maupun anak tak dapat mengetahui tata cara penggunaan mainan tersebut, terutama yang bertujuan untuk meminimalisir efek negatif penggunaan mainan.
Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait berharap, Menteri Perdagangan yang bertanggung jawab atas lolosnya beragam mainan tersebut ke Indonesia melakukan pengawasan hingga ke bawah sehingga dampak negatif akibat mainan yang tidak sesuai bagi anak dapat dicegah, baik dampak fisik maupun psikologi. Salah satunya yang berbahaya, lanjut Arist, adalah mainan senjata.
"Ini kejadian berulang dari tahun ke tahun. Seharusnya, Kementerian Perdagangan bertanggung jawab. Mainan ini kan untuk 18 tahun ke atas, tetapi di Indonesia malah untuk 13 tahun ke bawah karena nggak ada label dengan bahasa Indonesia," ujar Arist saat dihubungi Kompas.com, Kamis (23/8/2012) pagi.
Arist menegaskan, Kementerian Perdagangan gagal dalam menegakkan aturannya sendiri. Pasalnya, Indonesia sebenarnya telah memiliki peraturan yang mengharuskan barang impor mencantumkan petunjuk berbahasa Indonesia, yaitu Permendag No 22/2010 tentang Kewajiban Pencantuman Label pada Barang. Namun, kondisi sebaliknya bisa dilihat di pasar-pasar mainan anak.
"Mainan senjata itu mana ada pakai label bahasa Indonesia. Yang ada bahasa China karena diimpor dari sana. Syukur ada bahasa Inggrisnya. Kenapa barang impor begitu bisa lolos," tegasnya.
Hal lain yang menjadi sorotan adalah pemerintah dinilai tidak melakukan pengecekan terhadap kandungan bahan-bahan kimia berbahaya yang ada di dalam mainan anak. Padahal, dampak apapun yang dapat terjadi pada anak harus dicantumkan di dalam kemasan. Namun kembali lagi, jika kemasannya saja tidak berbahasa Indonesia, konsumen bagaikan beli kucing dalam karung.
"Kan di labelnya juga tidak dicantumkan bahan pembuatan mainan dan apa saja dampak saat anak-anak menggunakan mainan itu terus menerus. Artinya, pemerintah lalai menegakkan aturannya sendiri," lanjutnya.
Setelah perayaan Idul Fitri 1 Syawal 1433 Hijriah, pasar tempat menjual mainan anak-anak diserbu pembeli. Berbagai jenis mainan anak dijual, mulai dari boneka, robot-robotan, mobil remote control, hingga senjata mainan. Berdasarkan pantauan, kebanyakan mainan memang tak dilengkapi dengan petunjuk berbahasa Indonesia.
Editor :
Caroline Damanik
0 komentar:
Posting Komentar