Jakarta, KompasOtomotif - Honda Indonesia meminta pemerintah lebih fokus menggarap konversi energi dari bahan bakar minyak (BBM) ke gas ketimbang harus memaksakan diri mengembangkan mobil hibrida atau listrik. Pilihan ini dinilai lebih praktisdan paling mungkin dilakukan dalam waktu dekat.

"Masalahnya, sekarang masih banyak konsumen yang belum biasa mengggunakan gas. Padahal di negara maju sudah banyak. Untuk ke arah ini, perlu koordinasi antar lembaga yang berkepentingan," beber Jonfis Fandy

"Masalahnya, sekarang masih banyak konsumen yang belum biasa mengggunakan gas. Padah di negara maju sudah banyak. Untuk ini, perlu koordinasi antar lembaga yang berkepentingan," beber Jonfis Fandy, Direktur Pemasaran dan Layanan Purna Jual PT Honda Prospect Motor di Jakarta Selatan, semalam (9/8/2012).
Hal tersebut disampaikan saat ditanya tanggapannya menggenai program Low Emission Carbon Project (LECP) yang tengah digodok pemerintah dan ditunggu TPM. Regulasi ini mengatur insentif pemerintah untuk kendaraan ramah lingkungan seperti mobil gas, hibrida, listrik dan biodiesel.
Dijelaskan, persiapan infrastruktur dan investasi yang dibutuhkan ATPM dan pemerintah untuk menggalakkan penggunaan gas jauh lebih ringan ketimbang mobil hibrida atau listrik. Tapi, pemerintah wajib menjamin ketersediaan dan distribusi gas.
"Soal keamanan tidak perlu khawatir selama produk ditangani oleh ATPM. Pengawasan lebih terjamin. Kasus meledak yang terjadi di Indonesia karena modifikasi dilakukan konsumen tanpa pengawasan," beber Jonfis.
Tomoki Uchida, Presiden Direktur HPM menambahkan Honda menyambut positif insentif yang dikeluarkan pemerintah untuk mobil ramah lingkungan, mulai dari gas, hibrida sampai listrik. "Semua teknologi itu kita sudah punya. Gas lebih ekonomis," jelas Uchida.
Honda juga mengaku terus memperhatikan program yang dikeluarkan Pemerintah Indonesia. Produsen nomor tiga terbesar Jepang ini tidak mengelak ingin ambil bagian program low cost and green car (LCGC).
"Kita membuka semua kemungkinan. Lihat dulu aturan mainnya. Kalau memungkinkan, tentu kita masuk. Kami akan siapkan berbagai produk lebih banyak, khususnya di rentang harga Rp150 jutaan," tutup Jonfis.
0 komentar:
Posting Komentar