Home » » Hentikan Perdagangan Primata

Hentikan Perdagangan Primata

Written By Dino Cerata on Rabu, 04 Juli 2012 | 03.24

KOMPAS.com - Sains
News and Service // via fulltextrssfeed.com
Hentikan Perdagangan Primata
Jul 4th 2012, 10:24

Satwa Liar

Hentikan Perdagangan Primata

Penulis : Iwan Setiyawan | Rabu, 4 Juli 2012 | 15:59 WIB

Kompas/Iwan Setiyawan

Aktivis ProFauna saat aksi protes di Kemenhut di Jakarta, Rabu (4/7/2012). Kompas/Iwan Setiyawan

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah aktivis ProFauna menggelar aksi protes atas maraknya perdagangan satwa liar jenis primata di depan Kantor Kementerian Kehutanan di Jakarta, Rabu (4/7/2012).

Aksi ini sebagai bentuk keprihatinan karena masih tingginya perdagangan primata dan daging primata di Indonesia. Dalam aksi tersebut mereka menggelar meja yang di atasnya tersaji makan an layaknya jamuan makan dengan menu daging dan organ primata. Mereka juga menggelar spanduk besar menuntut dihentikannya perdagangan daging primata.

Laporan terbaru ProFauna dan International Primate Protection League (IPPL) menunjukkan setiap bulan puluhan ekor primata dibunuh untuk dikonsumsi daging dan otak. Jenis primata yang paling banyak dikonsumsi adalah monyet ekor panjang (Macaca facicularis). Kondisi ini ditemukan dari hasil penelusuran di Jakarta dan Palembang.

Selain dibunuh untuk dikonsumsi, primata juga diperdagangkan untuk satwa peliharaan. Jenis primata dilindungi yang banyak diperdagangkan antara lain kukang (Nycticebus sp) dan siamang (Hylobates syndactylus).

Hasil penelusuran ProFauna, di Palembang, perdagangan primata diduga terpusat di Pasar 16 Ilir. Beberapa primata yang diperdagangkan antara lain: kukang, siamang, kancil, lutung, monyet, dan jenis satwa lain seperti elang. Satwa-satwa yang diduga hasil tangkapan di hutan atau wilayah konservasi di Sumatera tersebut sebagian juga dikirim ke Jawa. Harga seekor kukang diperkirakan sekitar Rp 150.000 per ekor.

Irma Hermawati, Koordinator ProFauna Jakarta, mengatakan, "Perdagangan primata baik hidup maupun bagian tubuhnya tidak bisa dibenarkan dari sudut aturan dan etika, apalagi primata yang diperdagangkan itu juga meliputi primata yang dilindungi undang-undang".

Minat masyarakat untuk mengkonsumsi otak atau daging monyet diduga karena adanya kepercayaan bisa meningkatkan vitalitas. Padahal menurut ProFauna, hal ini belum bisa dibuktikan secara ilmiah.

Editor :

Sonya Hellen Sinombor

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Artikel pendidikan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger