JAKARTA, KOMPAS.com - Aksi demo yang dilakukan ratusan murid dan beberapa guru, terhadap Ami Witaryati, selaku Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 9, terjadi karena salah paham antara guru dan kepala sekolah SMPN 9 tersebut.
Penolakan itu, terkait dengan adanya rotasi atau mutasi terhadap 5 orang guru di sekolah itu.
Kepala Suku Dinas Pendidikan Dasar Jakarta Timur, Nasrudin mengatakan, hal ini terjadi akibat kesalahpahaman antara guru dan kepala sekolah SMPN 9.
"Kasus ini saya lihat, kalau persoalannya, karena komunikasi yang tidak efektif, sehingga terjadi kesalahpahaman. Ini sudah saya sampaikan kepada kepala sekolah, termasuk kepada guru-gurunya," ujar Nasrudin, kepada wartawan, Rabu, (18/7/2012).
Menurutnya, rotasi yang dilakukan kepada lima guru tersebut sudah sesuai prosedur. Hal tersebut, sesuai ketentuan Surat Keputusan Bersama Lima Menteri tentang Tentang Penataan dan Pemerataan Guru Pegawai Negeri Sipil, dimana guru PNS wajib mengajar di depan kelas minimal 24 jam dalam sepekan.
Sehingga, sambungnya, rotasi itu bertujuan untuk memindahkan guru ke sekolah yang kekurangan guru, dari sekolah yang kelebihan guru.
Hanya saja, penyampaian kepada guru-guru yang bersangkutan kurang efektif, sehingga memunculkan kesalahpahaman.
Dengan kejadian ini, pihaknya sudah memanggil kepala sekolah, untuk menjelaskan kronologis kejadian. Jika terdapat kesalahan, pihaknya akan menindak, tetapi untuk saat ini masih akan dipelajari lebih lanjut.
"Bagaimana pun, secara aturan, tentu akan kami tindak. Apa tindakannya, sesuai dengan peraturan, siapa yang salah, ya kita lihat nanti, kalau memang ada yang salah," ujarnya.
Sementara itu, seperti diberitakan sebelumnya, ratusan murid dan beberapa guru di SMPN 9, yang berlokasi di jalan Usman, Kelurahan Kelapa Dua Wetan, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, pada Selasa (17/7/2012), berdemo di dalam halaman sekolah menolak mutasi terhadap 5 orang guru.
Aksi yang dilakukan itu, menolak pemindahan lima orang guru ke sekolah lain. Adapun kelima guru yang dimutasikan adalah Misneti (guru seni budaya), Harder Sinaga (guru matematika), Junawan (guru matematika), Sri Lestari (guru IPS), Musyiana (guru Bahasa Indonesia).
Aksi yang pada saat itu berlangsung sejak pagi pukul 07.00 WIB, sempat membuat aktivitas kegiatan belajar mengajar terhenti. Murid baru masuk kembali ke dalam kelas sekitar pukul 10.20 WIB.
0 komentar:
Posting Komentar