BRISBANE, KOMPAS.com - Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) akan menggelar Konferensi International Pelajar Indonesia (KIPI) pada 2-4 Oktober 2012.
Dalam konferensi yang digelar untuk ketiga kalinya di Universitas Queensland, Brisbane, akan membahas hasil karya ilmiah dan ide kreatif para pelajar Indonesia dari seluruh dunia untuk Indonesia yang lebih baik.
Tema dari KIPI kali ini ádalah: The Best Indonesian Scholars: Innovative Ideas for the World" Ilmuwan Terbaik Indonesia: Ide-ide Inovatif bagi Dunia). Konferensi bertaraf international ini rencananya akan dihadiri oleh perwakilan perhimpunan pelajar dari 11 negara yaitu Australia, Indonesia, India, Inggris, Italia, Jerman, Korea Selatan, Malaysia, Rusia, Singapura dan Turki.
KIPI yang merupakan program dua tahunan berskala internasional yang diselenggarakan oleh PPIA, tahun ini telah menerima lebih dari 200 abstrak, yang menjadikan KIPI 2012 sebagai salah satu konferensi terbesar yang pernah diselenggarakan oleh PPIA.
Setelah dilakukan proses penyeleksian terhadap sejumlah abstrak yang diterima, panitia yang terdiri dari para ahli dan ilmuwan ternama di bidangnya, memutuskan mengangkat 48 abstrak terbaik untuk dipaparkan lebih luas kepada peserta KIPI dan khalayak pebisnis internasional yang hadir.
Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA), Bagus Nugroho, menegaskan, kegiatan ini juga merupakan wujud perjuangan dan kontribusi para pelajar dan peneliti Indonesia, khususnya yang berada di luar negeri.
Dalam rilis ke media yang diterima oleh koresponden Kompas di Australia, L. Sastra Wijaya tersebut, selain konferensi, KIPI 2012 juga akan menggelar talk show dengan salah satu pembicaranya adalah Dahlan Iskan. Menteri Badan Usaha Milik Negara ini akan berbicara mengenai kewirausahaan.
Menurut Rino Nugroho selaku Project Cordinator, talk show yang bersifat interaktif ini akan bertema researchpreneurship. Researchpreneurship adalah penggabungan antara unsur entrepreneurship (kewiraswastaan)dan research (penelitian).
"Masih belum banyak wirausahawan yang mengembangkan produk berbasis teknologi dan ilmu pengetahuan. Selain lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan, wirausaha berbasis teknologi dan ilmu pengetahuan ini mempunyai keunggulan berupa minimnya modal yang diperlukan, sebab ide dari pencipta itu sendiri, sehingga menjanjikan nilai tambah yang berlipat ganda," jelas Rino yang juga mahasiswa tingkat PhD di University of Queensland.
Ratih Maria Dhewi selaku Wakil Ketua PPIA menambahkan bahwa konferensi ilmiah ini menjadi sangat tepat untuk sosialisasi penyajian hasil penelitian rekan-rekan mahasiswa, peneliti, dan akademisi, sekaligus memperoleh masukan pengembangan yang lebih baik.
Mengingat peserta konferensi adalah rekan-rekan dari berbagai negara yang memiliki kepakaran dan peminatan kajian yang relevan.
"Konferensi ini dapat memotivasi untuk terus berkarya memberikan kritisasi dan solusi bagi kemajuan dan pengembangan Researchpreneurship, Semoga", jelas Ratih.
0 komentar:
Posting Komentar